FRIENDSHIP IS NEVER DIE

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Kamis, 19 Desember 2013 0 komentar




Assalammualaikum wr wb ^_^

Bismillahirrohmanirrahim..
Selamat pagi jiwa-jiwa yang senantiasa bersyukur dimanapun berada J.  Dee, dalam postingan kali ini, sengaja aku ingin mencurahkan isi hati tentang persahabatan. Ya, tentunya sahabat terbaikku Safitri J, terimakasih untuk semua kebaikan mu sahabatku.
Sahabat adalah cinta. Sahabat adalah ketulusan. Sahabat adalah cerminan diri. Sahabat adalah awal dari banyak hal besar. Untuk mengawali catatan sederhanaku ini, ingin ku sapa salam terbaik untuk sahabatku, Safitri. Teriring doa untuk sahabat tercinta yang jauh disana, semoga Allah senantiasa menjaga dan mengistiqomahkanmu dimanapun engkau berada. Aamin.
Hi Safitri, sedang apa kamu? Mungkinkah sedang berorasi atau negosiasi? Hehe :D. Entah mengapa aku ingin sekali kenangan kita akan terus terkenang sampai kapanpun. Awal kisah, bermula dari pertemuan ku dan sahabatku di sebuah kelas baru, XI IPS 3 SMAN 1 NATAR. Pertama kali aku kenal dia, orangnya biasa aja, berantakan kadang-kadang, ngga cewe banget, kerjaannya telaaaaaaaat melulu -_-. Sampai-sampai aku heran, ini anak rumahnya di mana atau bangunnya jam berapa? :D. Ketika kelas XI, kami ngga begitu dekat, biasa aja. Tapi semua itu berawal ketika kelas XI udah mau berakhir. Aku mulai dekat dengannya.
Sahabatku satu ini orangnya susah move on, dari SMP-SMA bahkan ketika awal masuk universitas, tetep aja yang di inget 1 nama. Ya, Khairul Anwar :D. Sebut saja kak Irul. Tiap hari aku dengerin cerita dia soal kak Irul, sampe-sampe aku ngerasa, aku deket sama Safitri udah dari SMP, abisnya dia cerita detail banget hehe. Tapi ngga Cuma itu kok, oya Saf, gimana sama kakak tingkat yang dulu kamu pernah ngefans. Kak Novian Tri Sadewa contohnya, salah satu tim basket SMA ku :D. Ah...sepertinya kalau sama yang ini ngga bertahan lama, lagi-lagi tetep kalah sama sosok Irul. Ciuss ini mah ^_^. 
Next, waktu terus berlalu, kenanganku dengannya tak pernah habis. Ingatkah kawan, satu hal yang membuatku ingin terus bertemu denganmu di sekolah, karena kita selalu bertukar mimpi J. Yaa, bertukar mimpi, tentang seseorang. Safitri... sahabatku ini adalah orang yang telah merubah mindset-ku. Dari yang suka negative thinking jadi positif thinking. Mungkin karena kebersamaan kita setiap hari, dari pagi hingga sore hari. Sikapnya yang simple dan cuek, membuatku belajar untuk lebih bersabar ketika menghadapi manusia tipe-tipe kaya gini. Susah ditebak. Tapi taukah kamu, yang buat aku semakin kagum dengan sahabatku ini ialah ketika ia menghargai sahabatnya berbicara. Dengan antusias dia mendengar apa yang aku bicarakan dan tentunya itu membuatku semakin bahagia karena ada yang mendengarkan ketika aku berbicara. Dulu, aku sangat pasif, tapi karena dia, aku belajar banyak hal. Tapi ditengah-tengah keakraban itu, pernah terjadi sebuah konflik besar. Yang dulunya sahabat, malah jadi rival dan pastinya itu membuatku shock sekali. Awal masalah ketika ada seleksi SNMPTN jalur undangan, aku dan dia memilih jurusan yang sama dengan universitas yang sama. Entah salah siapa, tapi yang jelas jika alasan dari aku dan dia disatukan, tak pernah ketemu apa solusinya. Di kelas, kami duduk terpisah. Yang awalnya kita selalu bersebelahan, aku di pojok kanan depan, dia di pojok kiri belakang, frontal memang. Tapi itulah kami. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan hati yang teramat berat. Tak ingin ke sekolah, karena tak punya sahabat. Tak ada teman berbagi, tak ada teman tertawa. Di rumah, aku menangis, ingin rasanya meminta maaf tapi tak ada keberanian karena permintaan maafku yang pertama telah ditolaknya. Sejak saat itu, aku terus memperbaiki hubungan dengan Allah, karena kata murabbi-ku, ketika kita memperbaiki hubungan dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hunbungan dengan sesama manusia. Tapi tak lupa juga ikhtiarnya, tawakalnya. Ketika itu aku sudah mulai menyerah. Sampai pada suatu pagi, Allah menjawab doaku J. Tiba-tiba Safitri datang dan meminta maaf padaku. Aku senang, senang sekali. Aku tidak pernah menyesali adanya perselisihan ini, karena dengan inilah aku bisa mengerti arti penting dan berharganya  seorang sahabat dalam hidup kita J.  Sejak saat itu, hubungan kita semakin dekat, aku semakin mengenalnya J.
Dulu, dia adalah teman yang menyenangkan, sampai sekarang. Aku ingat, dia adalah satu-satunya teman yang selalu menemaniku ke mushola sekolah untuk sholat dhuha, tapi sayangnya dia selalu nunggu di luar, ngga ikut sholat juga. Oh Safitri J. Tapi aku berharap, perilaku dia yang ini jangan diteruskan sampai sekarang yaaa hehe. Peace
Ada beberapa hal yang buat aku terkadang sangat merindukannya. Rindu  dengan sebuah planing yang besar, angan-angan tinggi, imanijasi kemana-mana :D. Apalagi ketika berhadapan dengan mata pelajaran yang jelas-jelas membosankan. Jujur, kalau aku lebih sering tertidur ketika mata pelajaran matematika, karena aku memang sangat tidak menyukainya -_-‘’. Dan pastinya dia yang suka nyubit kalau ngga ngebangunin pas waktu aku bener-bener ketiduran.. thankss yaa :D. Selain itu, pernah kita buat planing anggaran/eh bukan :D, planing masa depan lebih tepatnya. Cita-cita dia yang masih aku ingat sampe sekarang yaitu punya restaurant buat Baby hehehe, aamiin ntar kalau aku punya baby, gratis yaaa hahaha. Ketika jam makan siang nih, komplainnya pasti keluar “Anitaaaa, kangkung lagi, kangkung lagi, pantes kamu ngantukan” :D sumpah, kalo ngomong itu lho… “ya gimana, ini kan sayur favorit gue :p” Ngga Cuma sampai disitu, kekonyolan kita berdua. Saf, inget ngga kamu waktu di kelas, kalau udah mulai abis dzuhur ya, depan kelas kita sejuk banget, intinya udah males belajar kan? Hehe. Waktu itu kita selalu berangan, ketika aku mulai ngantuk, Safitri bilang “An, ada Eris depan pintu, nungguin elo, semangat geh, tuh kata dia elo harus semangat belajarnya” haha seketika itu aku semangat lagi wkwkwkw :D. Terus, aku bales deh dia “Saf, ditungguin?” “Siapa?” “om Irul” hahahaha, mulailah imajinasi kita, layaknya spongebob dan patrick, dua sejoli yang hebat dalam berimajinasi :D.
Cerita berikutnya, suatu hari aku sama dia dating ke acara Try Out dari mahasiswa ITB di GSG UNILA, pagi itu, aku sama Safitri dan Eris. Ceritanya sih, Safitri ketemu sama cowok keceee banget. Siapakah dia? Hehehe. Ya, ternyata Andung Pardila, tepatnya dia itu temen sekelas Eris :D. sejak itu dia kepooooo banget sama Andung. Upss..^_^ salam yaa buat Andung dari Safitri J.
Yang masih diinget banget, soal kegilaan kawan ku satu itu ketika aku disuruh inbox FB om Irul hehe. Masih inget ngga kamu? Ckckckckc, yuk geleng kepalaaa.
Inget hari terakhir kami sekolah, aku sama dia mampir ke MM (Millenium Mall) yang ngga jauh-jauh amat dari sekolah. Karena belum lewat jam 1, anak berseragam ngga boleh masuk di lantai dasar, padahal pengen beli makanan ringan L. Akhirnya kita ke lantai atas, ceritanya liat-liat boneka, liat-liat tas, liat-liat baju. Judulnya liat-liat aja atau istilah kerennya windows shoping :D. hehehe. Setelah itu, aku cari gantungan kunci warna pink putih, lucu, untuk motor Jupiter warna biru. Tetep ditemani safitri, trus kepikiran deh buat beli gelang warna pink untuk aku 1, safitri 1. Entah masih ada apa ngga itu barang :D hehe. Capek jalan terus dari tadi, kita duduk di tangga deket time zone, mau maen kok males, akhirnya kita cerita-cerita, seperti biasa J. Tapi kali ini suasananya berbeda, ketika itu aku dan dia akan jarang bertemu, tidak ada kelas tempat kita belajar maupun duduk bersebelahan. Safitri bilang “ini hari terakhir kita kaya gini ya? Besok-besok kita ngga bisa main kaya gini lagi, kamu jangan lupa contect aku yaa” wah….siang yang sendu…sekali. J
Itu dulu…….
Perpisahan ini berawal ketika aku memutuskan untuk berbeda kampus dengan dia. Aku tidak meneruskan daftaranku di UNILA yang tinggal selangkah lagi. Entah mengapa feel ku sangat kuat dan aku memutuskan untuk meninggalkan kampus impian dan memilih kampus yang lebih dekat dengan rumah mama. Mungkin itulah jalan kita J. Safitri yang sekarang sudah banyak berubah “sisi positif” maksudnya hehe. Aku benar-benar bisa melihat ia telah mendapatkan apa yang disebut “soul”. Semangat, optimis, selalu ceria, dan yang baru nih, penampilannya sudah mencerminkan kalau dia cewek sejati. Yayayayay :D hehe. Salut deh punya kawan seperti dia, kalau tiap hari aku sama dia, mungkin hari-hariku akan jauh lebih baik. J tapi rencana Allah lain, Allah membiarkan aku sendiri tanpa orang-orang yang aku sayang. Mereka yang selalu memotivasi aku selama ini, mereka jauh-jauh sekali. Aku seperti terdampar di sebuah pulau yang tak berpenghuni. Tanpa mereka, teman dan sahabat-sahabatku. Yang terasa kehilangan sekali yaaa sama Eris dan Safitri. Mereka ibarat charger-ku, dimana mereka-merekalah yang paling dekat denganku. Semua hal J. Allah membiarkan aku sendiri disini untuk dapat belajar menjalani hidup tanpa mereka. Awalnya memang terasa sangat berat, berat sekali…. L. Tapi aku ngga boleh nyerah dengan keadaan, akupun bisa bertahan tanpa mereka. Dengan segala pengalaman yang telah aku dapat dari dua sahabatku ketika kita bersama.
Safitri,
Terimakasih karena kalian telah mengisi separuh dari hidupku, memberikan warna yang begitu menakjubkan, menggores tinta emas dan melukai pun pernah. Tapi aku sangat bersyukur dengan itu semua. Ketika aku tidak merasakan pahit manisnya bersama kalian, aku yakin rasa sayangku terhadap kalian tidak akan sedalam ini. You are the best in my heart, maaf jika selama ini aku sering buat kesalahan, baik yang disengaja atau tidak. Aku benar-benar minta maaf. Terimaksih atas bimbingannya yaaaaa….
Safitri…
Tetep berusaha untuk jadi yang terbaik, di dunia maupun di akhirat kelak, doaku selalu untukmu, untuk kesuksesanmu, untuk keistiqomahanmu. Meskipun disini aku tertatih melawan arus, aku tak akan pernah pasrah dengan keadaan, aku akan mempertahankan kebaikan yang telah aku miliki dan menjaganya serta menjadikan diri ini semakin baik. Kamu juga lakukan yang terbaik untuk dirimu dan orang lain disana.
Sayang Safitri selamanya, last love forever J

Metro, December 18, 2013
Salam santun
Almaida A. Ade Ninggar


Baca Selengkapnya ....

Serpihan Asa yang Terajut Indah :)

Posted by Almaida A. Ade Ninggar 0 komentar


Untuk ayah tercinta..

Assalammualaikum ayah J, doa dan harapku untuk ayah disana, ayah selalu dalam keadaan dimana ayah ditemani malaikat-malaikat Allah yang akan menjaga ayah sampai waktunya tiba ketika ananda menyusul ayah, dan ayah tak akan kesepian lagi J.

Ayah, dari sudut kamar ini ananda menyampaikan pesan yang tak lain dari hati ananda untuk ayah. Pesan yang belum sempat terucap, pesan yang belum sempat tersampaikan, pesan yang belum sempat ayah ketahui, bukan?” ayah...sampai detik ini, ananda masih sangat merindukan ayah yang dulu, seseorang yang mirip denganku sekarang, seseorang yang sangat ananda sayang, selamanya dan tak kan pernah terganti. Ayah, meskipun pertemuan kita di dunia ini amatlah singkat, tapi rasa sayang ini tidak sesingkat masa dimana ayah dan ananda terpisah oleh ruang dan waktu untuk selamanya.

Ketika ananda berusia 9 tahun, dimana itu adalah tahun terakhir ananda dapat merasakan manja seorang anak kepada ayahnya, seolah tak ingin berpisah dan tak ingin tergantikan. Ayah, ananda begitu sedih, ketika ananda menyadari bahwa ayah telah jauh disana, dan pastinya ayah tak akan kembali ke rumah, kalaupun ayah kembali, ananda tak bisa melihat ayah seperti sediakala. Bagaimana dengan janji-janji ananda yang belum sempat ananda penuhi?, bagaimana dengan harapan-harapan ayah yang belum sempat ayah ungkapkan? Akankah kedua hal tersebut dapat dipertemukan, sehingga ananda pasti akan melakukan semua itu dengan penuh perjuangan atas izin Allah. Ayah, tidakkah ayah mendengar jelas rintihan hati seorang anak yang teramat sangat mencintai ayahnya? Ditengah keheningan malam, dengan sedikit sorot lampu yang redup, seorang gadis yang teramat rapuh, bersimpuh di atas sajadah biru muda, menegadahkan kedua tangan seraya berdoa dan memohon kepada yang Maha Kasih, agar senantiasa ia dan keluarga diberi keberlimpahan cinta dan kasihNya. Allah, tiada artinya hamba tanpa kasihMu, tiada artinya hamba disini ketika Engkau memang tidak memiliki rencana yang begitu indah yang telah Engkau persiapkan untuk hamba J.
Ayah, ananda mencintaimu karena Allah. Karena Allah juga begitu mencintaimu. Biarkan disini anada mempersiapkan rumah terindah untuk kita tinggali bersama, bersama pula ibu dan adik, di akhirat kelak. Ketika ananda akan mewujudkan keinginan hati setiap orang tua, terutama ayah, izinkan ananda untuk belajar menjadi insan yang shalihah, yang akhirnya nanti akan menjadi kebangaan ayah dan ibu di hadapan Sang Khaliq. Meskipun dalam masa menuju itu, tak ada yang tau apa yang akan terjadi, mungkinkah ananda akan berhasil mewujudkan cita-cita itu, atau ananda akan pergi mendahului ibu dan adik untuk menemui ayah disana. Wallahu’alam.
Kematian adalah pintu gerbang pemisah ke dua setelah alam rahim, dimana seseorang akan mendiami suatu tempat yang teramat asing. Tempat dimana orang lain pun akan berada disana, hanya masalah waktu, jauh dekatnya tak akan menjadi masalah, yang akan menjadi masalah besar ialah ketika perbekalan kita tidak cukup untuk melakukan perjalan yang teramat panjang dan melelahkan itu. J
Ayah, ananda belajar semua ini dari universitas kehidupan, dimana tidak semua orang dapat memahami hakikat untuk apa kita diciptakan Allah di muka bumi ini. Ilmu kehidupan yang terkadang begitu keras dan mengerikan bagaikan tebing-tebing terjal, terkadang sangat menakutkan seperti amukan ombak yang seolah akan menelan seluruh permukaan bumi, dan terkadang pula terlihat begitu nyaman dan menenangkan seperti ketika kita melihat hamparan rumput nan hijau sejauh mata memandang, perlahan kita susuri keindahan itu, dan kite temukan sebuah kesejukan yang amat luar biasa, yang tak satu molekul atom pun terbayang dalam benak kita, apa yang ada dihadapan, air terjun syurga dengan wewangiannya, seolah membuat hati seorang insan hanya menatap tanpa berfikir “siapa dan bagaimana ini bisa terjadi?” namun, tidak kah kalian merenungi apa-apa makna dari semua yang pernah kalian alami? Itulah kehidupan, bacalah dan pahami setiap aspek yang pernah singgah kepada kita. Apakah itu suatu ujian? Apakah itu suatu azab? Ataukah itu sebuah kenikmatan yang kita sendiri tanpa sadar telah mengkufurinya?
Ayah.. tak mengapa ananda disini tanpa ayah, mungkin awalnya ananda berfikiran bahwa Allah tidaklah adil, Allah telah memanggil ayah ketika ayah-ayah teman ananda masih bisa mengantarkan mereka ke gerbang sekolah, yang selalu menjanjikan mereka hadiah tatkala mereka meperoleh penghargaan dari sekolah. Tapi ayah tenang saja dari dulu ananda akan tetap menjadi yang terbaik untuk ayah dan ibu, baik itu di rumah atau di sekolah. Ananda jadi teringat, ketika ananda kelas 5 semester 2, hari itu pembagian rapor, hari dimana seluruh siswa merasa cemas. Di aula itu, ananda mengenakan seragam merah putih, berdasi, dengan dua ikat rambut dengan pita merah. Polos sekali. Terlihat ibu di barisan kursi ke 3 dari belakang. Menunggu dengan penuh harap ketika nama putrinya akan dipanggil kembali di semester ini. Alhamdulillah, akhirnya ananda bisa meraih juara umum seperti biasanya, namun ananda begitu sedih, karena dua teman ananda, didampingi ayah mereka, dan pada saat itu, ibu guru pun memanggil nama ayah sebagai wali ananda. Di depan khalayak, ananda sangat berharap ayah datang dari tengah-tengah barisan, meghampiri ananda dan mencium kening seraya berkata “aida putri terbaik ayah, pertahankan”. Seketika berderai air mata ini, ibu juga demikian, tapi ibu jauh terlihat tegar daripada ananda pada saat itu.      

Takdir Allah tak ada yang bisa menghalagi, biarpun seluruh umat di muka bumi memohon. J Sebagai insan yang bertaqwa, cukuplah Allah yang mengetahui takdir terbaik apa yang akan Allah tetapkan kepada kita semua. Dalam masa yang cukup sulit, Allah yang mengajarkan ananda, bagaimana memaknai kesedihan dengan keindahan firmanNya, dengan seluruh keindahan takdirNya, melalui tangan-tangan malaikat yang seolah diulurkan untuk menjemput ananda dari kesedihan yang teramat dalam ini. Ayah tersayang, tetaplah tersenyum J, karena ananda disini menjadi wakil ayah, menjaga ibu dan adik yang belum pernah ayah lihat sebelumnya, ayah telah pergi ketika adik belum sempat berganti ke dunia. Adik sangat menyayangi ayah meskipun ia tak pernah melihat atau merasakan kasih sayang dari ayah secara langsung.
Di penghujung sapaan ini, ananda berharap ananda dapat selalu menjadi yang terbaik untuk ayah dan ibu, sampai akhirnya nanti ananda akan menjadi bidadari syurga sebagaimana janji Allah kepada umatNya yang bertaqwa. Aamiin J

Salam santun,
Almaida A. Ade Ninggar


Baca Selengkapnya ....
Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Catatan Hati .