Bismillah aku Berhijab

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Jumat, 31 Januari 2014 0 komentar



Assalammualikum wr wb 

Dear sahabat blogers,...

Hi, apa kabar semuanya? Semoga senantiasa istiqomah dijalanNya. Aamiin J. Teman-teman shalihah, note kali ini, aku pengen berbagi cerita nih sama pengalaman ku berhijab. Hehe.
17 Agustus 2010
Inilah kali pertama aku benar-benar berhijab, yang ngga seperti tahun-tahun lalu yang jilbabnya masih bongkar pasang sesuka hati. Hehe (kaya’ mainan anak-anak bisa bongkar pasang). Jujur, kedua orang tuaku tak pernah menyuruhku untuk berhijab dengan sempurna dengan lisan beliau, tapi aku bersyukur karena beliau memberikan perintah tersebut dengan cara yang sangat lembut, tidak memaksa dan akhirnya aku pun berhijab syar’i. Dulu, waktu kelas 9, aku pernah ngobrol-ngobrol sebelum mata pelajaran matematika dimulai.
 “Riska, nanti kalau aku udah SMA, aku pengen lho pakek jilbab beneran, hehe”
“aku juga mau banget kok, malahan sejak masuk SMA nanti, aku pengen pakai jilbab beneran”
“oke deh, liat nanti yaaaa!”
Dan alhamdulillah, apa yang kami impikan dan rencanakan, sesuai dengan apa yang pernah kami bicarakan beberapa tahun lalu J.

Awal cerita, ketika aku masuk SMA, aku putuskan untuk ikut beberapa eskul salah satunya ROHIS atu lebih kita kenal dengan Rohani Islam. Mulai saat itu, aku sering sekali ikut seminar-seminar atu agenda yang berkaitan dengan keputriian Islami, ya salah satunya yang mendemo kan tentang hijab syar’i, berhijab seperti layaknya Allah memerintahkan dalam al-Qur’an. Selain itu juga, aku ikut BBQ (Bina Baca Qur’an) atau Liqo’ atau tarbiyah. Disanalah aku mulai benar-benar membentuk karakterku, mulai memperbaiki akhlaq juga penampilan termasuk berhijab syar’i.
Sore itu, setelah upacara penurunan bendera, aku pulang ke rumah. Setelah mandi nih, udah cakep, hehe, kakak ku ngajak aku pergi kemana gitu, lupa :D. Terus, aku memang udah berniat dari kemaren-kemaren buat berhijab sungguhan. Terus aku pakai hijab syar’i. Sore itu langit cerah, awal aku berhijab. Kakak ku senyum, hehe. Ya, tanpa berkomentar. Mungkin ia senang dengan perubahanku J. Awalnya masih malu-malu, ragu, pasti. Tapi kalau ngga dimulai dari sekarang, kapan lagi? Takut telat, trus tiba-tiba dateng malaikat maut kan -_-. Teman-teman yang di organisasi pun sangat mendukung, begitu pula kakak-kakak senior yang senantiasa membimbing kami J. Terimaksih kakak dan teman-teman. Selain itu juga, aku banyak terinspirasi oleh mbak-mbak di kampus, dimana dulu waktu SMA aku sering banget ke kampus itu untuk belajar mengenai banyak hal dengan mereka. Mereka terlihat begitu anggun dengan balutan hijab syar’i, belum lagi dihiasi dengan akhlak yang santun, ramah J special banget lah pokoknya. Hehe

Tidak hanya sebatas itu, hidayah Allah begitu indah. Kagum dengan sosok mbak OSD alias Oki Setiana Dewi. Dulu sebelum yakin buat berhijab syar’i, mikirnya pake dalemm. Tau kenapa ? ya, biasalah problema anak 16 tahun-an ya kurang lebih sama. Mikirnya, ngga bisa modis, susah nyesuaiin baju sesuai trend, dan blah blah blah :D. Tapi, seiring berjalannya waktu, meskipun awalnya masih ragu-ragu, bisa aku atasi juga. Tiba-tiba aku sangat antuias dalam persoalan ini. Finally, semua tak seburuk yang ku bayangkan, dengan syar’i pun kita masih bisa berpanampilan cantik, bahkan lebih terkesan anggun, seriously J.
Nah, bagi teman-teman yang dalam hati sudah ada keinginan untuk berhijab syar’i, ayo mulai di azamkan dalam hati dan mulai di coba, J yakin ngga bakal nyesel kok. Yakin aja kalau kita sudah memenuhi perintah Allah, kita pun akan semakin dekat dengan Allah.
Yuk budayakan syar’i, terlebih budaya kita menganut budaya ke-Timuran, bukan ke-Barat-Baratan lhooo... J semoga Allah senantiasa membibing kita semua dalam dekapan ukhwah yang akan menyatukan kita sampai kita dipertemukan di jannahNya. Aamiin 

Metro 29 Januari 2014

Salam Santun
Almaida A. Ade Ninggar

Baca Selengkapnya ....

Berteman BUKAN Berarti Bersahabat

Posted by Almaida A. Ade Ninggar 0 komentar





Dear blogers..

Kata orang, diri kita adalah ceriman dari sahabat-sahabat kita. Benarkah? Ya, aku sadari  semua itu memang benar.J kita bisa menilai seseorang dari teman-teman bergaulnya, ya kurang lebih seperti itu.
Guys, sejak aku kecil hingga usiaku sekitar 16 tahun, bisa dibilang, aku adalah orang yang selalu ngikutin rule yang ada. Aku adalah sosok anak yang benar-benar penurut. Dilarang ya dilarang, semua aturan-aturan itu aku ikuti tanpa terkecuali. Tapi bukan berarti sekarang engga nurut yaa hehe. Hingga pada suatu saat, aku bertemu dengan orang-orang yang sangat berpengaruh terhadap pola pikirku mengenai banyak hal. Jujur, aku masih berpegang teguh dengan aturan-aturan keluarga yang aku anggap itu adalah kunci dari penjagaan terhadap diriku sendiri. Ketika SMA, aku mengikuti banyak kegiatan, mulai dari Rohani Islam sekolah, Forum Rohani Islam tingkat Kota, Paskibra, Pramuka, Karate, Tim Olimpiade dan masih banyak lagi. Sejak itu, aku lebih open-minded, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, kebiasaan, karakter, belum lagi bertemu dengan teman-teman luar sekolah, sangat kompleks.

Aku sangat bersyukur dengan semua keberagaman ini,  dari sini aku belajar mengenal pribadi mereka, pergaulan mereka, dan apapun tentang mereka. Dari mereka aku belajar banyak hal. Ketika bersama sahabat-sahabat di Rohani Islam baik itu tingkat sekolah atau tingkat kota sekalipun, dimanapun berada, kesejukan adalah hal yang mudah sekali kita jumpai disana-sini, keseriusan, ke-tawadu’an, kesopanan, dan semua akhlak mulia yang mampu menentramkan hati dapat kita dapatkan disini, jujur aku juga banyak berubah ketika aku bergabung dengan mereka. Alhamdulillah...
Paskibra, Karate, Pramuka. Ketiga organisasi ini aku bertemu dengan orang-orang yang keras, tapi jika di bentuk hierarki, pramuka tidak termasuk yang keras. Berbeda pastinya dengan Rohani Islam (Rohis). Dan ketika di tim olimpiade sekolah, yang ada hanyalah keseriusan, belajar, belajar, belajar, maksimal, totalitas, berjuang, pasrah J. Hehehehe. Ya begitulah karakter manusia, tapi setidaknya, semakin kita mengenal banyak orang dengan karakternya masing-masing, kita akan lebih mengenal dan dapat mengontrol diri, jika mau berusaha ok J

Kembali ke topik awal, jika teman bukan berarti sahabat. Why? Kenapa? Aku harus jawab apa dong? Hehe.
Mungkin aku pun tak bisa menjawab pertanyaan itu dengan spontan jika ada seseorang yang mengajukan pertanyaan tersebut kepadaku. Disini, aku hanya ingin berbagi pengalaman. Bukan memberikan definisi. Aku mengenal banyak orang, aku berteman pun dengan banyak orang, dulu sewaktu SMA hingga sekarang sebenarnya, aku berteman dengan banyak kalangan. Dari yang satu sekolah, luar sekolah, luar pulau hingga luar negeri. Alasannya, I wanna know more about them J

Ketika aku berteman dengan salah satu teman sekolahku, laki-laki sebut saja Aldo. Semua warga sekolah, khususnya angkatan ku mengenal dia. Pernah aku sempat berteman dengannya. Dia seorang pemakai, begitu pula dengan teman-teman bergaulnya. Namun hal ini tidak diketahui oleh pihak sekolah. Ketika aku tanya, “kenapa lo make? Lo ngga takut sakaw? Lo ngga takut orang tua atau pihak sekolah tau?” ya, pertanyaan sederhaana yang pernah aku lontarkan ketika aku sedang ngobrol dengan dia dan beberapa teman lainnya di suatu tempat biasa mereka berkumpul. Dengan nada santai dan sedikit sunggingan senyum, “hehe, apaan lah lo Aida, biasa aja kalee, orang tua gua mana peduli sama gua, mau gua pulang tinggal mayat pun belum tentu mereka bakal nangisin jasad gua”. Sontak dalam hati, aku benar-benar kaget dengan jawaban Aldo. Ya.. faktor keluarga yang broken home, anak yang dibesarkan dengan harta benda tercukupi, namun malang karena bertemu dengan teman-teman yang menjerumuskan dan jauh dari perhatian, kasih sayang orang tua. Belum lagi, mereka begitu jauh dari agama. Ya Allah, semoga Engkau membimbing teman-teman hamba ke arah yang benar L aamiin.
Kali ini, aku coba berteman dengan beberapa teman dengan type “getset”nya. Ya, cewe-cewe yang sukanya hang out di mall, karokean, bioskop dan temat-tempat sejenis itu. Mereka memang asyik, ya aku akuin mereka memang asyik. Karakter mereka mencari cowo ganteng, kalo bisa yang  bermobil. Hehe. Hobby banget beli barang branded yang limmited. Ya, aku paham dengan mereka, itulah kepuasan yang mereka dapatkan. Salah satu dari mereka, sebut saja Ocha. Pernah aku diajak Ocha buat temenin dia belanja karena teman-temennya ngga bisa, ya kebetulan kita juga berteman. “Cha, lo ngga salah belanja ngabisin bugdet segitu? Ntar kalo nyokab atau bokap  lo cek rekening lo gimana cha?” dengan muka imutnya, sambil makan es krim di sebuah cafe, dia jawab “haha, bodo amat lah Aida, baru juga 1,8 juta, ini baru tas, sepatu, baju, entar kalo abis gua minta bokap lagi, ngga mungkin bokap nyokab gue ngecek rekening segala, mereka sibuk di Jakarta, gua disini Cuma sama eyang putri sama abang”. Nah lo, ini juga termasuk atau sejenisnya kasus si Aldo, Cuma beda dikit.L

Beda lagi dengan teman-teman di luar sana yang aku kenal, sengaja aku memang ingin tau mengenai kehidupan mereka, kehidupan teman-teman yang bebas. Smoking, Free sex, alkohol, semua itu umum bagi orang-orang yang tau dan mengenal kehidupan mereka. Biar bagaimanapun juga, mereka adalah teman-temanku. Aku sudah tidak kaget dengan semua ini, cukup tau. Itu prinsipku. Teman-teman menghargai aku karena aku apa adanya, dan begitu pula denganku, aku akan tetap menghargai mereka, meski aku tau, seperti apa pergaulan mereka. Yang sampai aku terheran, beberapa dari mereka adalah anak kebanggaan kedua orang tua bahkan keluarga. Keluarga tidak tau, bagaimana mereka ketika di luar. Entahlah aku hanya bisa diam, jikalau aku membantu, ya mungkin akan lebih banyak aku membantu lewat doa dan tindakan nyata yang halus. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tabu, atau apa lah, tapi memang ini faktanya. Inilah fakta pergaulan remaja sekarang, yang di kota besar hingga pedesaan pun bisa dibilang “beda tipis” L. Aku diam, karena aku tau. Tapi beda cerita jika yang ku ketahui adalah hal-hal baik atau semacam ilmu yang dapat bermanafaat bagi sesama.

Guys, boleh kita berteman dengan siapa saja, preman, pemakai, orang shalih, bahkan ustadz, mereka semua adalah ciptaan Allah, tak boleh sekalipun kita mencela atau mencerca. Namun, selektiflah kalian dalam mencari seorang sahabat. Karena sahabat, adalah mereka yang membenarkan tindakan salah kita, bukan mengiyakan semua perbuatan kita. Mereka yang akan menjadi tempat kita mencurahkan perasaan, saling berbagi solusi ketika membutuhkan, mereka yang akan setia kepadamu, dan  menjadikanmu berarti bagi kehidupan mereka.

Berteman atau mengenal mereka menurutku adalah cara dimana aku bisa belajar tentang kehidupan dari segala aspek, dari segala sudut pandang, dan dari pengalaman orang-orang yang bisa kita jadikan pebelajaran dalam hidup ini. Tak hanya yang baik saja ketika kita berteman, karena terkadang mereka yang kita pandang sebelah mata adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian kita. Tidak munafik juga ketika kita merasa bahwa kita adalah orang yang hanif,  namun ketika melihat atau mengetahui karakter buruk seseorang, kita langsung mencerca, mencela, bukan malah mendoakan kebaikan untuk mereka. Sebagai seorang muslim yang beriman, kita memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap saudara sesama lainnya, jangan kita beriman hanya untuk diri sendiri, karena sebaik baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Baik mereka yang kita kenal, ataupun mereka yang kita tidak mengenalnya sama sekali.
Jujur, sebenarnya rasa iba dalam hati ini begitu dalam terhadap mereka, mereka yang dengan sengaja mencari kebahagiaan namun dengan cara yang salah, seharusnya, Allah-lah yang ia cari, Allah lah yang mereka butuhkan selama ini. Astagfirullah.... aku mohon ampun atas segala salah jika dalam penulisan artikel ini, semua ini aku tulis tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk pengetahuan teman-teman semua, bukan untuk menjelekkan atau menjatuhkan salah satu pihak.

Ya Rabb.. Maha penggengam segalanya,
Lindungi dan arahkanlah mereka menuju Engkau,
Bukakanlah pintu-pintu hidayah dan taubatMu kepada mereka,
Lindungi dan jagalah mereka dimanapun mereke berada.
Allah.... aku mencintai mereka karena Engkau.

Metro, 27 Januari 2014

Salam Santun
Almaida A. Ade Ninggar

Baca Selengkapnya ....

Kematian itu dekat.....

Posted by Almaida A. Ade Ninggar 0 komentar



Bismillahirrohmanirrohim..

Dear blogers,

Malam ini aku tak bisa tidur nyenyak, tiba-tiba aku merasa sedang di intai, entah siapa dia. Aku gelisah, aku bingung harus berbuat apa, mata seakan tak mau terpejam, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Aku hanya membaca istighfar, teringat dosa-dosa yang telah ku lakukan, kewajiban yang belum aku tunaikan, hak-hak mereka yang belum aku berikan, malam itu menuntunku untuk berjalan keluar. Kamar-kamar di asrama ini sudah gelap sekali, menandakan mereka sudah tidur. Aku berjalan menyusuri lorong, berharap aku bisa menenangkan hati yang gelisah dan tak tentu ini. Aku berjalan perlahan, sambil berdzikir, melihat sekeliling, merasakan aura yang sangat berbeda, hingga aku sempat berfikir, apakah keadaanku seperti ini ketika aku meninggal nanti, gelap, sepi, tak ada yang menemani. Seketika air mataku berlinang, merasa hidup ini sudah tak lama lagi. 

Malam semakin larut, mata ini belum bisa terpejam juga. Ku ambil air wudhu kembali, memutuskan untuk bersimpuh dan memohon ampun kepada Allah.. berdoa dengan begitu khusyuk, hingga aku hampir pinsan karena tak kuasa menahan tangis. Teringat dosa-dosa terhadap abi dan ummi, terhadap orang lain, terlebih terhadap Allah. Kembali aku membuka mushaf al-Qur’an, dan menemukan ayat yang sepanjang ayat itu, hatiku semakin terasa sesak. Qs ar-Rahman “maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”.
Selesai itu, hatiku sudah sedikit tenang, waktu menunjukan pukul 02.00 am, semakin mendekati fajar, namun aku belum juga bisa terpejam. Aku buka laptop, dan mencoba googling tentang sesuatu. Di sebuah blog, aku menemukan sebuah artikel, judulnya “ternyata kematianku dekat”. Sempat aku bingung dengan judul artikel tersebut, namun setelah aku baca, inti dari note itu adalah sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang telah tiada, dan diteruskan oleh sahabatnya yang masih hidup. Merinding. Pasti. Seolah aku pun merasakan hal yang sama. 

Aku jadi teringat mimpiku 3 tahun silam. Saat itu aku bermimpi sedang bersama seorang wanita berjilbab lebar, wanita itu tinggi, besar, wajahnya tak terlihat, hanya terlihat jilbabnya berwarna putih, kami berdua ada disebuah ruangan sempit berukuran 1 x 1,5 m kurang lebihnya, perempuan itu berkata kepadaku,
“ikutlah aku, aku akan memberitahu tentang suatu hal yang harus kamu ketahui”
“apa?” tanyaku dengan penuh penasaran.
Lalu perempuan itu meraih pergelangan tanganku dan ia membawaku pergi ke suatu tempat.
“tempat apa ini, mengapa ramai sekali? Dan kenapa tetangga dan saudara-saudaraku berada disana, apa yang terjadi?” tanyaku kepada wanita itu.
Wanita itu tidak juga menjawab pertanyaanku, ia diam seribu bahasa, ia berdiri disampingku, tetap menggengam erat pergelangan tangan kananku, kami berdiri dari kejauhan sambil tetap memperhatikan hiruk pikuk di tempat yang ramai itu. Tiba-tiba ia berkata,

“lihat, kamu mengenal perempuan itu?”
“iya, aku sangat mengenalnya, itu mbak Yuli, mbak Susanti, mereka semua tetanggaku, itu ada juga bude Wati ibunya mbak Rini. Diantara mereka juga aku melihat beberapa tetanggaku. Sebenarnya ada apa disana, mengapa banyak kursi seperti ada orang yang mau hajatan, hanya saja tak ada dekorasi?”
Kembali wanita itu menjelaskan rinci, kali ini penjelasannya membuatku kaku, tak bisa mengelak apa-apa, bahkan untuk menggerakkan badan sekalipun aku tak kuasa, derai air mata yang terus mengalir deras, semakin membuatku tak berdaya.

“kau lihat, banyak tetangga dan sanak saudaramu disana, lihatlah ember-ember  besar itu sedang di isi air oleh orang-orang menggunakan selang, untuk memandikan jenazah, lihat orang-orang sedang merangkai bunga untuk diletakan di atas keranda, lihat kain kafan itu telah diukur dan dipotong sedemikian rupa dan telah siap untuk dipakaikan sebagai pakaian terakhir, lihat pula orang-orang ramai berdatangan, mereka telah siap-siap untuk memberikan penghormatan terakhir, ya sholat jenazah, dan kau pun lihat mereka menangis tersendu-sendu, seakan tak rela kehilangan, seakan mereka sangat menyayangi jenazah itu, kau dengar suara tangisnya? Kau dengar? Itulah tangis kehilangan, kehilangan untuk selama lamanya. Dan apakah kau tau itu siapa? Itu dirimu, itu ragamu, kau sendiri telah menyaksikan, bahwa itu dirimu, bukan orang lain, inilah waktu terakhirmu untuk dapat bertemu dengan mereka, perhatikanlah....”
Aku tak bisa menggambarkan, bagaimana perasaanku saat itu, perasaan yang berkecamuk sebagai penolakan keras bahwa aku belum meninggal. Aku mencoba memanggil orang-orang yang lalu lalang, namun tak ada satu orang pun yang mendengarku, seakan aku berada di dunia yang berbeda dengan mereka, aku belum siap..... amal ibadahku masih sedikit, tapi mengapa aku pergi secepat ini.... aku tak bisa berkata-kata lagi, ingin aku melepaskan genggaman tangan dari wanita itu, tapi sangat erat, aku tak mampu,..
“sekarang kau tau, waktumu telah habis, pergilah bersamaku, kau sudah tak ada hak disini, ikutlah bersamaku”

Aku menolak dengan ketidakberdayaanku, aku mencoba mengelak atas semua yang terjadi kepadaku, sampai akhirnya wanita itu menarik tanganku dan berjalan sejauh mungkin, perempuan itu lari, aku pun ikut lari karena aku tak bisa melepaskan genggaman itu, hingga ketika kami tiba disebuah tempat yang sangat menakutkan, hutan belantara, penuh dengan semak belukar, akar-akar bergelantungan, tiba-tiba ada seorang kakek berjubah putih, dengan sorban yang dijadikan ikat kepala, dengan tasbih di genggamannya, layaknya seorang wali Allah, memberhentikan kami. Kakek itu tersenyum kepadaku, suasana semakin tak terkendali. Kemudian kakek itu berkata kepada wanita yang sampai sekarang masih menggengam tanganku.
“lepaskan ia, belum saatnya ia pergi, Allah telah menetapkan takdir kapan ia akan pergi, lepaskan”
Wanita itu tiba-tiba menjadi sangat menakutkan, ia mengelak dan tetap akan mengajaku pergi, aku menangis tersendu-sendu, aku takut.

“tidak, aku tetap akan membawanya pergi” wanita itu tetap bersikeras.
Kakek itu mengatakan sebuah kata singkat “tujuh”.
Tujuh (7) apa maksud dari 7?? Aku tak begitu memikirkannya.
Lalu perempuan itu melepaskan aku dan aku dapat berlari menjauhi wanita itu sejauh-jauhnya. Entah aku berada dimana, aku tak mengenali tempat ini. Perlahan dalam kesendirian, tempat ini berubah menjadi kamar ku, kali ini aku sadar, semua itu tadi adalah mimpi, namun aku tak bisa bangun dari mimpiku, aku mendengar nenek dan kakek sedang bercakap di teras samping, karena jendela kamarku dekat dengan teras. Aku coba memanggil-manggil mereka, tapi seakan tak ada yang mendengarkanku, aku sangat ingin bangun, dan berhenti dari mimpi buruk ini. Aku menangis tersendu-sendu namun tak ada satupun yang mendengarku, aku melemparkan jam beker di meja dekat tempat tidurku namun tak ada yang mendengar, hingga akhirnya aku dapat terbangun, namun apa yang terjadi, ketika akhirnya aku dapat bangun, namun aku sangat terkejut, sejadi-jadinya, aku duduk dari posisi tidurku, namun aku melihat ragaku masih tertidur, jiwaku sudah keluar setengah badan dari ragaku, aku melihat ragaku terpejam dan aku tak dapat menyentuhnya, aku melihat seperti seolah-olah nyata, aku bisa menggerakan tanganku namun tidak dengan ragaku. Setelah itu aku pinsan. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi, mimpi buruk itu dalam waktu dekat. Hingga pada akhirnya ternyata aku bisa bangun, dan aku masih hidup. Sontak aku langsung mengambil air wudhu, sholat tahajud, menangis tersedu-sedu hingga membangunkan kakek nenek dan kakak ku, mereka bingung, mengapa kau menangis menjadi jadi, aku langsung meminta maaf kepada mereka, aku takut jika memang ajalku dekat, dan aku belum sempat meminta maaf kepada mereka.  Setelah sholat dan berdoa, hatiku sudah mulai tenang, rasa takut itu sudah mulai berkurang, meskipun air mata belum juga dapat terhenti. Aku ambil handphone ku, ingin sekali menghubungi ummi di rumah, untuk meminta maaf, tapi kakak bilang “jangan, ini masih tengah malam, takut nanti mereka mengkhawatirkanmu, sekarang tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa, besok pagi baru kamu menghubungi ummi, tapi jangn ceritakan apa yang telah terjadi”
Aku mengangguk. Akhirnya aku kembali ke kamar, dan mencoba menenagkan diri agar dapat tidur taanpa ditemui oleh wanita itu. 

Pagi tiba...
Malam ini adalah malam terpanjang yang pernah aku alami dan rasakan, di pagi hari aku seperti orang “ling-lung” merasa antara percaya atau tidak. Hingga di sekolah, mataku sembab, aku sama sekali tidak fokus belajar. Tiba-tiba di tengah pelajaran, semua memori tentang mimpiku semalam kembali dan dapat ku lihat jelas, sampai sekarang aku masih sangat mengingatnya.
Sahabat, mungkin inilah teguran dari Allah untukku, teguran sekaligus peringatan, peringatn agar aku dapat memperbaiki dan mempersiapkan semuanya, bisa juga ini termasuk kesempatan yang Allah berikan untukku. Aku, sebagai hamba Allah yang jauh dari kata “sempurna”, masih seringkali menyepelekan atau kadang acuh, aku tak juga bisa sadar untuk terus melakukan yang terbaik dan bermanfaat, terkadang aku sedih hanya karena msalah sepele, masalah yang tak perlu dipermasalahkan, maslah kecil yang membuatku tak fokus dengan apa yang menjadi tujuan dan prioritas, masalah yang akhirnya hanya membuang-buang waktu produkifku. Ya Allah, ampuni hamba....

Disaat kita mulai kembali berfikir, akankah kita akan terus-terusan seperti ini, menjadi manusia yang tak bernilai, yang tak berambisi untuk meraih akhirat yang sejatinya itu adalah tempat abadi kita untuk selama-lamanya? Kerusakn-kerusakan moral yang telah terjadi saat ini adalah bukti bahwa murka Allah semakin dekat, tidak kah kita takut akan murkaNya? Karena ulah kita sendiri? Dunia menjadi tujuan utama, segala hal di halalkan dan mengabaikan pedoman keislaman itu sendiri.  Karakter  sebagai muslim luntur, terlebih pada generasi muda yang seolah-olah acuh dan tak peduli, tak serius dengan kondisi Islam pada masa kini. Otak-otak mereka telah diracuni olah keduniawian, tipu daya syaitan yang begitu mudahnya masuk pada diri masing-masing karena keimanan yang sangat sedikit, tak lagi memperdalam ilmu keagamaan, menjadikan diskotik, bar dan tempat-tempat nongkrong menjadi salah satu destinasi utama dalam menghabiskan waktu luang, sedangkan majelis-majelis ilmu dibiarkan sepi tak berpenghuni, ataukah jika ada, hanya segelintir orang yang berada didalamnya. Suasana yang sangat berbeda jika kita melihat lingkungan sekitar jika dibandingkan dengan lingkungan pesantren yang begitu teduh dan menyejukkan.
Sahabat, selagi kita masih deberi nikmat berupa kelapangan dan waktu luang, ayo kita fastabihul khoirots, sebelum kita menutup mata untuk selamanya..

Metro, 31 Januari 2014

Salam Santun,
Almaida A. Ade Ninggar


Baca Selengkapnya ....

Sadar atau Tidak, ya inilah FAKTAnya...

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Sabtu, 25 Januari 2014 0 komentar





Assalamu’alikum....

Dear blogers 
Selamat malam semuanya.. apa kabar hati? Apakah masih baik-baik saja? #semoga . Guys, note aku kali ini angkat fakta tentang “kecenderungan”. Weits, apakah ada yang sudah menebak?  Kecenderungan jenis apa? Hehe, jangan aneh-aneh ya, this is normally, ok. #@###*&%*%

Hm... pernah ngga kalian “fallin in love with someone?” hayoloooh, yang senyum pasti ngerasa. Cie-cie..hehe. yap, itu normal kok guys, normal sekali. Rasa mengagumi atau suka atau bahkan merasa sangat tertarik dengan lawan jenis itu naluri, ciptaan Allah. Karena pada dasarnya, Allah pun sangat menyukai keindahan. Begitu juga kita, jika melihat yang indah-indah, pastilah kita merasa senang.
Guys, sadar atau ngga, jika kita suka atau naksir sama seseorang, tiba-tiba kita menyukai apa yang dia suka. Bener ngga? Berdasarkan pengalaman sih, pernah aku naksir sama seseorang. Seseorang yang membuat beberapa hal dalam hidup ku berubah, seperti hobi, warna dan kecenderungan lainnya. Aku yang ngga tau apa-apa soal gitar, tiba-tiba menggebu-gebu untuk dapat meainkan alat musik tersebut, yang ngga suka warna biru jadi fanatik luarr biasa, dari yang benci matematika jadi jatuh cinta sama eksakta, dan mungkin masih banyak lagi. Kalian tau itu karena apa? Ya, perasaan “cinta”. Cinta yang membuat kita merasa bahwa hidup kita sangat berwarna. Saat kita memiliki “rasa” terhadap orang lain, pastilah kita coba terus untuk mencari tau sebanyak-banyaknya tentang dia, bahkan kita mengetahui hal-hal tentangnya yang tak semua teman-temannya tau akan hal itu, intinya kita jauh lebih tau entah dari mana aja sumbernya, entah bener atau ngga. Tiba-tiba, kita jadi “spy” yang handal, bisa jadi sampe hafal plat nomor kendaraannya, dimana ada plat itu di parkiran, kita udah seneng banget, padahal engga tau juga kalau misalnya yang bawa kendaraan dia itu temennya atau siapa gitu. Hihihihi...... perhatian kita ke dia pun jadi ekstra, mulai dari cara berpakaiannya, cara ngomongnya, cara dia ketawa, cara dia jalan pula dan yang ngga ketinggalan, sebagai wanita, kita akan mampu hafal kata-kata yang pernah dia ucapkan, yang berkaitan dengan kita mungkin atau yang ngena misalnya, yang dia sendiri udah lupa sama sekali.  Intinya ya begitulah guys, cinta itu luar biasa. Eittts, maaf ini ya, aku ambil sample “cinta” dala arti sempit. Do you know what I mean? Yaaa, hopefuly you got it. Karena cinta itu engga sesederhana ini guys, ada cinta kepada Allah, kedua orang tua, keluarga, sahabat, tetangga, teman, pekerjaan, jurusan kuliah yang kita ambil, alam semesta, dan masih banyak lagi. Tapi terkadang, kebanyakan orang menafsirkan kalau cinta itu hanya sebatas “aku dan kamu” kalau memang seperti itu, alangkan ceteknya pemikiran kita, sangat malahan. Well guys, sorry nih agak menyimpang dari topik. Hihihi. 

Tapi......
 disaat perasaan itu perlahan hilang, kecenderungan tersebut luntur satu persatu meskipun tak semuanya. Cinta seorang manusia terhadap sesama, ya seperti itulah.... lain halnya jika sandaran cinta kita yang sesungguhnya kepada Allah . Guys... boleh kok kita mencintai lawan jenis, apalagi dengan usia kita yang masih teenagers. Tapi ingat, sebelu kita diikat oleh ikrar yang syah agama, kita tak boleh macem-macem, apalagi pacaran. Sebagai umat muslim, alangkah sangat baiknya jika kita menjalankan syariat agama dengan sebenar-benarnya. Perlahan tapi pasti, mencoba sedikit demi sedikit meninggalkan hal-hal yang dilarang agama, sambil kita memperbaiki diri. Termasuk dalam hal pacaran. Guys aku tekanka sekali lagi, mencintai lawan jenis itu normal, ambil sisi positif dari dia yang bisa kita jadikan inspirasi misalnya latar belakang hidup dia, prestasinya, prinsip hidupnya, whatever-lah, kalian jauh lebih tau, karena kalian yang merasakan. Jangan sampai perasaan kalian malah menjauhkan kalian kepada Allah, tapi harus bisasemakin mendekatkan diri kepadaNya.  Dia-lah yang menciptakan keindahan itu, maka cintailah Dia yang telah menciptakan keindahan yang kita sendiri kagum terhadapnya. Terkadang, mencintai makhluk itu menyakitkan jika dia tidak mencintai kita. Tapi mau bagaimana lagi, itulah cinta kepada makhluk. Kita tak bisa bergantung kepadanya, sekali lagi mari luruskan niat, jangan sampai kita merasa sakit hanya karena cinta makhluk yang tak terbalaskan, karena selama ini, ada Allah yang sangat mencintai kita, tapi kita malah sering mengabaikannya. Rahasia dia jodoh kita atau bukan, kembalikan kepada Allah, kita tak pernah menyangka siapa jodoh kita, bisa jadi teman satu kelas, teman 1 kampus, kakak tingkat yang wisuda lebih dulu dari kita, sahabat kecil, atau kemungkinan-kemungkinan lain yang tak disangka-sangka. Masih inget postingan lama, “jodoh itu menjadi, bukan mencari atau bahkan menyeleksi” Allah jauh lebih tau mana yang pantas buat kita nantinya. Guys, pertahankan jika emang kalian sekarang mencintai seseorang, cintai ia karena Allah, “If you love someone because of Allah, He will make it last forever. If you leave someone because of Allah, He will give you someone much better” .
Jangan terlalu mencintai yang semu, sesungguhnya semua hal yang berlebihan itu tidak baik. Porsi sedang aja ya hehehe, kaya lagi pesen makanan ^_^. Yuk luruskan niat..apapun yang kita lakukan, kembali kepada Allah. Hemmm, udah dulu ya, thanks udah mampir disini.  Wasalam.

Metro, 23 January 2014

Salam Santun,
Almaida A. Ade Ninggar

Baca Selengkapnya ....
Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Catatan Hati .