Bismillahirrohmanirrohim..
Dear blogers,
Malam ini aku tak bisa tidur nyenyak,
tiba-tiba aku merasa sedang di intai, entah siapa dia. Aku gelisah, aku bingung
harus berbuat apa, mata seakan tak mau terpejam, sedangkan waktu sudah
menunjukkan pukul 00.00. Aku hanya membaca istighfar, teringat dosa-dosa yang
telah ku lakukan, kewajiban yang belum aku tunaikan, hak-hak mereka yang belum
aku berikan, malam itu menuntunku untuk berjalan keluar. Kamar-kamar di asrama
ini sudah gelap sekali, menandakan mereka sudah tidur. Aku berjalan menyusuri
lorong, berharap aku bisa menenangkan hati yang gelisah dan tak tentu ini. Aku
berjalan perlahan, sambil berdzikir, melihat sekeliling, merasakan aura yang
sangat berbeda, hingga aku sempat berfikir, apakah keadaanku seperti ini ketika
aku meninggal nanti, gelap, sepi, tak ada yang menemani. Seketika air mataku
berlinang, merasa hidup ini sudah tak lama lagi.
Malam semakin larut, mata ini belum bisa
terpejam juga. Ku ambil air wudhu kembali, memutuskan untuk bersimpuh dan
memohon ampun kepada Allah.. berdoa dengan begitu khusyuk, hingga aku hampir
pinsan karena tak kuasa menahan tangis. Teringat dosa-dosa terhadap abi dan
ummi, terhadap orang lain, terlebih terhadap Allah. Kembali aku membuka mushaf
al-Qur’an, dan menemukan ayat yang sepanjang ayat itu, hatiku semakin terasa
sesak. Qs ar-Rahman “maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”.
Selesai itu, hatiku sudah sedikit tenang,
waktu menunjukan pukul 02.00 am, semakin mendekati fajar, namun aku belum juga
bisa terpejam. Aku buka laptop, dan mencoba googling tentang sesuatu. Di sebuah
blog, aku menemukan sebuah artikel, judulnya “ternyata kematianku dekat”.
Sempat aku bingung dengan judul artikel tersebut, namun setelah aku baca, inti
dari note itu adalah sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang telah tiada, dan
diteruskan oleh sahabatnya yang masih hidup. Merinding. Pasti. Seolah aku pun
merasakan hal yang sama.
Aku jadi teringat mimpiku 3 tahun silam. Saat
itu aku bermimpi sedang bersama seorang wanita berjilbab lebar, wanita itu
tinggi, besar, wajahnya tak terlihat, hanya terlihat jilbabnya berwarna putih,
kami berdua ada disebuah ruangan sempit berukuran 1 x 1,5 m kurang lebihnya,
perempuan itu berkata kepadaku,
“ikutlah aku, aku akan memberitahu tentang
suatu hal yang harus kamu ketahui”
“apa?” tanyaku dengan penuh penasaran.
Lalu perempuan itu meraih pergelangan tanganku
dan ia membawaku pergi ke suatu tempat.
“tempat apa ini, mengapa ramai sekali? Dan
kenapa tetangga dan saudara-saudaraku berada disana, apa yang terjadi?” tanyaku
kepada wanita itu.
Wanita itu tidak juga menjawab pertanyaanku,
ia diam seribu bahasa, ia berdiri disampingku, tetap menggengam erat
pergelangan tangan kananku, kami berdiri dari kejauhan sambil tetap
memperhatikan hiruk pikuk di tempat yang ramai itu. Tiba-tiba ia berkata,
“lihat, kamu mengenal perempuan itu?”
“iya, aku sangat mengenalnya, itu mbak Yuli,
mbak Susanti, mereka semua tetanggaku, itu ada juga bude Wati ibunya mbak Rini.
Diantara mereka juga aku melihat beberapa tetanggaku. Sebenarnya ada apa
disana, mengapa banyak kursi seperti ada orang yang mau hajatan, hanya saja tak
ada dekorasi?”
Kembali wanita itu menjelaskan rinci, kali ini
penjelasannya membuatku kaku, tak bisa mengelak apa-apa, bahkan untuk
menggerakkan badan sekalipun aku tak kuasa, derai air mata yang terus mengalir
deras, semakin membuatku tak berdaya.
“kau lihat, banyak tetangga dan sanak saudaramu
disana, lihatlah ember-ember besar itu
sedang di isi air oleh orang-orang menggunakan selang, untuk memandikan
jenazah, lihat orang-orang sedang merangkai bunga untuk diletakan di atas
keranda, lihat kain kafan itu telah diukur dan dipotong sedemikian rupa dan
telah siap untuk dipakaikan sebagai pakaian terakhir, lihat pula orang-orang
ramai berdatangan, mereka telah siap-siap untuk memberikan penghormatan terakhir,
ya sholat jenazah, dan kau pun lihat mereka menangis tersendu-sendu, seakan tak
rela kehilangan, seakan mereka sangat menyayangi jenazah itu, kau dengar suara
tangisnya? Kau dengar? Itulah tangis kehilangan, kehilangan untuk selama
lamanya. Dan apakah kau tau itu siapa? Itu dirimu, itu ragamu, kau sendiri
telah menyaksikan, bahwa itu dirimu, bukan orang lain, inilah waktu terakhirmu
untuk dapat bertemu dengan mereka, perhatikanlah....”
Aku tak bisa menggambarkan, bagaimana
perasaanku saat itu, perasaan yang berkecamuk sebagai penolakan keras bahwa aku
belum meninggal. Aku mencoba memanggil orang-orang yang lalu lalang, namun tak
ada satu orang pun yang mendengarku, seakan aku berada di dunia yang berbeda
dengan mereka, aku belum siap..... amal ibadahku masih sedikit, tapi mengapa
aku pergi secepat ini.... aku tak bisa berkata-kata lagi, ingin aku melepaskan
genggaman tangan dari wanita itu, tapi sangat erat, aku tak mampu,..
“sekarang kau tau, waktumu telah habis,
pergilah bersamaku, kau sudah tak ada hak disini, ikutlah bersamaku”
Aku menolak dengan ketidakberdayaanku, aku
mencoba mengelak atas semua yang terjadi kepadaku, sampai akhirnya wanita itu
menarik tanganku dan berjalan sejauh mungkin, perempuan itu lari, aku pun ikut
lari karena aku tak bisa melepaskan genggaman itu, hingga ketika kami tiba
disebuah tempat yang sangat menakutkan, hutan belantara, penuh dengan semak
belukar, akar-akar bergelantungan, tiba-tiba ada seorang kakek berjubah putih,
dengan sorban yang dijadikan ikat kepala, dengan tasbih di genggamannya, layaknya
seorang wali Allah, memberhentikan kami. Kakek itu tersenyum kepadaku, suasana
semakin tak terkendali. Kemudian kakek itu berkata kepada wanita yang sampai
sekarang masih menggengam tanganku.
“lepaskan ia, belum saatnya ia pergi, Allah
telah menetapkan takdir kapan ia akan pergi, lepaskan”
Wanita itu tiba-tiba menjadi sangat
menakutkan, ia mengelak dan tetap akan mengajaku pergi, aku menangis
tersendu-sendu, aku takut.
“tidak, aku tetap akan membawanya pergi”
wanita itu tetap bersikeras.
Kakek itu mengatakan sebuah kata singkat
“tujuh”.
Tujuh (7) apa maksud dari 7?? Aku tak begitu
memikirkannya.
Lalu perempuan itu melepaskan aku dan aku
dapat berlari menjauhi wanita itu sejauh-jauhnya. Entah aku berada dimana, aku
tak mengenali tempat ini. Perlahan dalam kesendirian, tempat ini berubah
menjadi kamar ku, kali ini aku sadar, semua itu tadi adalah mimpi, namun aku
tak bisa bangun dari mimpiku, aku mendengar nenek dan kakek sedang bercakap di
teras samping, karena jendela kamarku dekat dengan teras. Aku coba
memanggil-manggil mereka, tapi seakan tak ada yang mendengarkanku, aku sangat
ingin bangun, dan berhenti dari mimpi buruk ini. Aku menangis tersendu-sendu
namun tak ada satupun yang mendengarku, aku melemparkan jam beker di meja dekat
tempat tidurku namun tak ada yang mendengar, hingga akhirnya aku dapat
terbangun, namun apa yang terjadi, ketika akhirnya aku dapat bangun, namun aku sangat
terkejut, sejadi-jadinya, aku duduk dari posisi tidurku, namun aku melihat
ragaku masih tertidur, jiwaku sudah keluar setengah badan dari ragaku, aku
melihat ragaku terpejam dan aku tak dapat menyentuhnya, aku melihat seperti
seolah-olah nyata, aku bisa menggerakan tanganku namun tidak dengan ragaku.
Setelah itu aku pinsan. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi, mimpi buruk itu dalam
waktu dekat. Hingga pada akhirnya ternyata aku bisa bangun, dan aku masih
hidup. Sontak aku langsung mengambil air wudhu, sholat tahajud, menangis
tersedu-sedu hingga membangunkan kakek nenek dan kakak ku, mereka bingung,
mengapa kau menangis menjadi jadi, aku langsung meminta maaf kepada mereka, aku
takut jika memang ajalku dekat, dan aku belum sempat meminta maaf kepada
mereka. Setelah sholat dan berdoa,
hatiku sudah mulai tenang, rasa takut itu sudah mulai berkurang, meskipun air
mata belum juga dapat terhenti. Aku ambil handphone ku, ingin sekali
menghubungi ummi di rumah, untuk meminta maaf, tapi kakak bilang “jangan, ini
masih tengah malam, takut nanti mereka mengkhawatirkanmu, sekarang tidurlah,
tidak akan terjadi apa-apa, besok pagi baru kamu menghubungi ummi, tapi jangn
ceritakan apa yang telah terjadi”
Aku mengangguk. Akhirnya aku kembali ke kamar,
dan mencoba menenagkan diri agar dapat tidur taanpa ditemui oleh wanita itu.
Pagi tiba...
Malam ini adalah malam terpanjang yang pernah
aku alami dan rasakan, di pagi hari aku seperti orang “ling-lung” merasa antara
percaya atau tidak. Hingga di sekolah, mataku sembab, aku sama sekali tidak
fokus belajar. Tiba-tiba di tengah pelajaran, semua memori tentang mimpiku
semalam kembali dan dapat ku lihat jelas, sampai sekarang aku masih sangat
mengingatnya.
Sahabat, mungkin inilah teguran dari Allah
untukku, teguran sekaligus peringatan, peringatn agar aku dapat memperbaiki dan
mempersiapkan semuanya, bisa juga ini termasuk kesempatan yang Allah berikan
untukku. Aku, sebagai hamba Allah yang jauh dari kata “sempurna”, masih
seringkali menyepelekan atau kadang acuh, aku tak juga bisa sadar untuk terus
melakukan yang terbaik dan bermanfaat, terkadang aku sedih hanya karena msalah
sepele, masalah yang tak perlu dipermasalahkan, maslah kecil yang membuatku tak
fokus dengan apa yang menjadi tujuan dan prioritas, masalah yang akhirnya hanya
membuang-buang waktu produkifku. Ya Allah, ampuni hamba....
Disaat kita mulai kembali berfikir, akankah
kita akan terus-terusan seperti ini, menjadi manusia yang tak bernilai, yang
tak berambisi untuk meraih akhirat yang sejatinya itu adalah tempat abadi kita
untuk selama-lamanya? Kerusakn-kerusakan moral yang telah terjadi saat ini
adalah bukti bahwa murka Allah semakin dekat, tidak kah kita takut akan
murkaNya? Karena ulah kita sendiri? Dunia menjadi tujuan utama, segala hal di
halalkan dan mengabaikan pedoman keislaman itu sendiri. Karakter
sebagai muslim luntur, terlebih pada generasi muda yang seolah-olah acuh
dan tak peduli, tak serius dengan kondisi Islam pada masa kini. Otak-otak
mereka telah diracuni olah keduniawian, tipu daya syaitan yang begitu mudahnya
masuk pada diri masing-masing karena keimanan yang sangat sedikit, tak lagi
memperdalam ilmu keagamaan, menjadikan diskotik, bar dan tempat-tempat
nongkrong menjadi salah satu destinasi utama dalam menghabiskan waktu luang,
sedangkan majelis-majelis ilmu dibiarkan sepi tak berpenghuni, ataukah jika
ada, hanya segelintir orang yang berada didalamnya. Suasana yang sangat berbeda
jika kita melihat lingkungan sekitar jika dibandingkan dengan lingkungan
pesantren yang begitu teduh dan menyejukkan.
Sahabat, selagi kita masih deberi nikmat
berupa kelapangan dan waktu luang, ayo kita fastabihul khoirots, sebelum kita
menutup mata untuk selamanya..
Metro, 31 Januari 2014
Salam Santun,
Almaida A. Ade Ninggar