Serpihan Asa yang Terajut Indah :)

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Kamis, 19 Desember 2013 0 komentar


Untuk ayah tercinta..

Assalammualaikum ayah J, doa dan harapku untuk ayah disana, ayah selalu dalam keadaan dimana ayah ditemani malaikat-malaikat Allah yang akan menjaga ayah sampai waktunya tiba ketika ananda menyusul ayah, dan ayah tak akan kesepian lagi J.

Ayah, dari sudut kamar ini ananda menyampaikan pesan yang tak lain dari hati ananda untuk ayah. Pesan yang belum sempat terucap, pesan yang belum sempat tersampaikan, pesan yang belum sempat ayah ketahui, bukan?” ayah...sampai detik ini, ananda masih sangat merindukan ayah yang dulu, seseorang yang mirip denganku sekarang, seseorang yang sangat ananda sayang, selamanya dan tak kan pernah terganti. Ayah, meskipun pertemuan kita di dunia ini amatlah singkat, tapi rasa sayang ini tidak sesingkat masa dimana ayah dan ananda terpisah oleh ruang dan waktu untuk selamanya.

Ketika ananda berusia 9 tahun, dimana itu adalah tahun terakhir ananda dapat merasakan manja seorang anak kepada ayahnya, seolah tak ingin berpisah dan tak ingin tergantikan. Ayah, ananda begitu sedih, ketika ananda menyadari bahwa ayah telah jauh disana, dan pastinya ayah tak akan kembali ke rumah, kalaupun ayah kembali, ananda tak bisa melihat ayah seperti sediakala. Bagaimana dengan janji-janji ananda yang belum sempat ananda penuhi?, bagaimana dengan harapan-harapan ayah yang belum sempat ayah ungkapkan? Akankah kedua hal tersebut dapat dipertemukan, sehingga ananda pasti akan melakukan semua itu dengan penuh perjuangan atas izin Allah. Ayah, tidakkah ayah mendengar jelas rintihan hati seorang anak yang teramat sangat mencintai ayahnya? Ditengah keheningan malam, dengan sedikit sorot lampu yang redup, seorang gadis yang teramat rapuh, bersimpuh di atas sajadah biru muda, menegadahkan kedua tangan seraya berdoa dan memohon kepada yang Maha Kasih, agar senantiasa ia dan keluarga diberi keberlimpahan cinta dan kasihNya. Allah, tiada artinya hamba tanpa kasihMu, tiada artinya hamba disini ketika Engkau memang tidak memiliki rencana yang begitu indah yang telah Engkau persiapkan untuk hamba J.
Ayah, ananda mencintaimu karena Allah. Karena Allah juga begitu mencintaimu. Biarkan disini anada mempersiapkan rumah terindah untuk kita tinggali bersama, bersama pula ibu dan adik, di akhirat kelak. Ketika ananda akan mewujudkan keinginan hati setiap orang tua, terutama ayah, izinkan ananda untuk belajar menjadi insan yang shalihah, yang akhirnya nanti akan menjadi kebangaan ayah dan ibu di hadapan Sang Khaliq. Meskipun dalam masa menuju itu, tak ada yang tau apa yang akan terjadi, mungkinkah ananda akan berhasil mewujudkan cita-cita itu, atau ananda akan pergi mendahului ibu dan adik untuk menemui ayah disana. Wallahu’alam.
Kematian adalah pintu gerbang pemisah ke dua setelah alam rahim, dimana seseorang akan mendiami suatu tempat yang teramat asing. Tempat dimana orang lain pun akan berada disana, hanya masalah waktu, jauh dekatnya tak akan menjadi masalah, yang akan menjadi masalah besar ialah ketika perbekalan kita tidak cukup untuk melakukan perjalan yang teramat panjang dan melelahkan itu. J
Ayah, ananda belajar semua ini dari universitas kehidupan, dimana tidak semua orang dapat memahami hakikat untuk apa kita diciptakan Allah di muka bumi ini. Ilmu kehidupan yang terkadang begitu keras dan mengerikan bagaikan tebing-tebing terjal, terkadang sangat menakutkan seperti amukan ombak yang seolah akan menelan seluruh permukaan bumi, dan terkadang pula terlihat begitu nyaman dan menenangkan seperti ketika kita melihat hamparan rumput nan hijau sejauh mata memandang, perlahan kita susuri keindahan itu, dan kite temukan sebuah kesejukan yang amat luar biasa, yang tak satu molekul atom pun terbayang dalam benak kita, apa yang ada dihadapan, air terjun syurga dengan wewangiannya, seolah membuat hati seorang insan hanya menatap tanpa berfikir “siapa dan bagaimana ini bisa terjadi?” namun, tidak kah kalian merenungi apa-apa makna dari semua yang pernah kalian alami? Itulah kehidupan, bacalah dan pahami setiap aspek yang pernah singgah kepada kita. Apakah itu suatu ujian? Apakah itu suatu azab? Ataukah itu sebuah kenikmatan yang kita sendiri tanpa sadar telah mengkufurinya?
Ayah.. tak mengapa ananda disini tanpa ayah, mungkin awalnya ananda berfikiran bahwa Allah tidaklah adil, Allah telah memanggil ayah ketika ayah-ayah teman ananda masih bisa mengantarkan mereka ke gerbang sekolah, yang selalu menjanjikan mereka hadiah tatkala mereka meperoleh penghargaan dari sekolah. Tapi ayah tenang saja dari dulu ananda akan tetap menjadi yang terbaik untuk ayah dan ibu, baik itu di rumah atau di sekolah. Ananda jadi teringat, ketika ananda kelas 5 semester 2, hari itu pembagian rapor, hari dimana seluruh siswa merasa cemas. Di aula itu, ananda mengenakan seragam merah putih, berdasi, dengan dua ikat rambut dengan pita merah. Polos sekali. Terlihat ibu di barisan kursi ke 3 dari belakang. Menunggu dengan penuh harap ketika nama putrinya akan dipanggil kembali di semester ini. Alhamdulillah, akhirnya ananda bisa meraih juara umum seperti biasanya, namun ananda begitu sedih, karena dua teman ananda, didampingi ayah mereka, dan pada saat itu, ibu guru pun memanggil nama ayah sebagai wali ananda. Di depan khalayak, ananda sangat berharap ayah datang dari tengah-tengah barisan, meghampiri ananda dan mencium kening seraya berkata “aida putri terbaik ayah, pertahankan”. Seketika berderai air mata ini, ibu juga demikian, tapi ibu jauh terlihat tegar daripada ananda pada saat itu.      

Takdir Allah tak ada yang bisa menghalagi, biarpun seluruh umat di muka bumi memohon. J Sebagai insan yang bertaqwa, cukuplah Allah yang mengetahui takdir terbaik apa yang akan Allah tetapkan kepada kita semua. Dalam masa yang cukup sulit, Allah yang mengajarkan ananda, bagaimana memaknai kesedihan dengan keindahan firmanNya, dengan seluruh keindahan takdirNya, melalui tangan-tangan malaikat yang seolah diulurkan untuk menjemput ananda dari kesedihan yang teramat dalam ini. Ayah tersayang, tetaplah tersenyum J, karena ananda disini menjadi wakil ayah, menjaga ibu dan adik yang belum pernah ayah lihat sebelumnya, ayah telah pergi ketika adik belum sempat berganti ke dunia. Adik sangat menyayangi ayah meskipun ia tak pernah melihat atau merasakan kasih sayang dari ayah secara langsung.
Di penghujung sapaan ini, ananda berharap ananda dapat selalu menjadi yang terbaik untuk ayah dan ibu, sampai akhirnya nanti ananda akan menjadi bidadari syurga sebagaimana janji Allah kepada umatNya yang bertaqwa. Aamiin J

Salam santun,
Almaida A. Ade Ninggar

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Serpihan Asa yang Terajut Indah :)
Ditulis oleh Almaida A. Ade Ninggar
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://almaidaisanita.blogspot.com/2013/12/serpihan-asa-yang-terajut-indah_19.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Catatan Hati .