Harus Apa dan Bagaimana?

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Senin, 07 Juli 2014 1 komentar




Bismillahirrahmanirrohim…

Aku, bukan orang yang teramat tegar, setegar batu karang atau bebatuan di sudut samudra, bahkan setegar apapun batu karang, lama kelamaan ia akan luluh karena hempasan ombak, waktu yang bisa membuktikannya. Aku, layaknya seorang insan biasa, hamba Allah yang penuh dosa, memiliki hati yang rapuh. Aku tidak mengatakan aku tegar, karena pada kenyataannya aku memang rapuh. Hanya karena Allah aku bisa kuat, kuat dengan segala cobaan yang datang silih berganti. Semakin memberikan corak dan kesan tesendiri.
Sebagai wanita pada umumnya, aku juga pernah jatuh cinta, jatuh cinta kepada seseorang yang tak lain adalah temanku sendiri. Namun aku berusaha menjaga perasaan ini agar perasaan ini tidak menuntunku ke arah yang tidak baik. Aku mencintainya sudah 5 tahun, dalam kurun waktu tersebut perasaan ini masih tersimpan rapih, memang sengaja aku menjaganya, aku ingin perasaan ini nantinya bisa menjadi ikatan suci jika Allah menghendaki ia sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Allah, satu-satunya nama yang aku jadikan tempat untuk mencurahkan segala isi hatiku tentangnya, Allah tahu segalanya, hingga Ia memberikan kami jalan yang berbeda. Aku percaya, suatu hal yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah.
Ketika kita mencintai seseorang, seringkali kita berharap cinta tersebut tidak bertepuk sebelah tangan, juga tidak menyakitkan. Tapi apalah daya ku sebagai orang biasa? Semua hal yang ada di dunia ini memiliki perbedaan. Ada siang ada malam, ada langit ada bumi, ada hitam ada putih, juga ada mencintai ada tersakiti. Resiko memang selalu ada ketika kita mencoba mencintai seseorang dan harus bersiap pula ketika kita patah hati. Benar, Allah mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga hati, tapi itulah manusia, tak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milikNya.
Ku akui, memang aku bukanlah orang yang mudah tertarik dan mudah jatuh cinta kepada seseorang, aku juga bukan orang yang dengan begitu mudahnya ‘move on’ dari seseorang yang aku cintai. Perasaan berkecamuk ini yang sekarang sedang aku rasakan, perasaan sakit yang mendalam, sakit yang tak bisa ku ungkapkan terkecuali hanya pada sujud dan mengadu kepada Rabbku. Sakit yang membuatku merasakan kehilangan kepingan hatiku. Aku sadar, mungkin selama ini aku tidak menempatkan cinta Allah sebagai cinta yang utama, ampuni aku ya Rabb. Terlepas dari hal tersebut, aku tetap menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempatku mencurahkan segala keluh kesahku, kebahagiaanku,  Allah bimbing hamba untuk mencintai Engkau sebagaimana Engkau mencintaiku.
Aku mencintai dia, tapi sepertinya dia tidak mencintaiku. Ia jauh, jauh sekali. Sesekali aku terfikirkan olehnya, bermimpi bertemu dengannya, atau bahkan ketika sakit aku sebut namanya tanpa sadar. Dulu, kami memang pernah dekat, sebelum Allah memberikan takdir yang berbeda kepada kami. Dia menginginkan orang lain, yang jauh lebih baik dari aku. Ya, aku tau, sekarang ia adalah sosok yang luar biasa, luar biasa dalam segala hal, bukan sosok yang biasa seperti ia kala itu. Aku mengaguminya, karena ia aku bisa belajar jauh lebih banyak tentang kehidupan. Aku tau aku salah ya Rabb,…
Sekarang, aku akan mencoba untuk belajar ikhlas, ikhlas dalam menerima segalanya, ikhlas dalam melupakan perasaan yang membuatku sakit, ikhlas untuk menjalani hidup dan meneruskan perjuanganku seorang diri, ikhlas untuk menerima siapa saja yang nantinya akan menjadi pendamping hidupmu. Proses ini aka ku nikmati, bersama Rabbku, bersama orang-orang  yang senantiasa ada di sekelilingku. Ikhlas untuk kembali berserah dan tawakal kepada Allah. Semoga, engkau memiliki jodoh yang shalihah, jodoh yang senantiasa akan membawa keluargamu ke JannahNya, jodoh yang cantik, baik akhlaq maupun fisiknya. Aamiin
Doa ini juga merupakan upaya hatiku untuk belajar ikhlas, maafkan segala kesalahan yang dahulu pernah ku perbuat terhadapmu, maafkan segala tutur kata dan perilaku yang tidak baik. Terimakasih sudah pernah ada dalam hidupku, selama 5 tahun ini. Entah aku nantinya bisa benar-benar melupakan rasa ini terhadapmu atau tidak, aku serahkan semua kepada Allah, aku pasrah, aku hanya bisa berusaha dan terus berdoa. Semoga kebaikan dan ridhoNya menyertai kehidupan ku,kamu, dia, juga mereka. Terimakasih telah menyayatkan luka ini, tapi aku bersyukur meskipun luka ini perih, sakit, tapi aku yakin Allah sedang mengujiku dan aku percaya Allah memberikan cobaan tidak pernah di luar batas kemampuan hambaNya. Aku ingin ini menjadi estafet yang nantinya akan membawaku ke jalan yang lebih baik dari aku yang sebelumnya.
Mungkin sebagian orang mencibir, ini hanya masalah sepele, masalah yang di alamai oleh setiap orang, masalah yang sangat klasik di kalangan remaja seumuranku, tapi bagiku masalah ini bukan seperti itu, aku tidak sama dengan mereka dan aku tidak pernah menyamakan diriku dengan mereka dalam hal ini. Mungkin mereka mengalami hal ini berkali kali, kemudian dengan mudahnya mencari ganti, atau melakukan hal pada umumnya demi kesenangan mereka, karena aku ingin satu yang ku jaga sampai ikatan suci, namun mungkin semua ini sia-sia, aku hanya bisa pasrah karena semua ini telah terjadi, aku memang salah, tapi akan ku jadikan pelajaran atas semua salah yang pernah aku lakukan.
Karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik, tidak ada satu manusiapun yang dapat menghalangi untuk kita berubah menjadi lebih baik. Inssyaalah, jika niat kita baik, Allah akan memudahkan. Wallahu’alam.

Metro, 7 Juli 2014

Salam santun,
Almaida A. Ade Ninggar

Baca Selengkapnya ....

Jika Memang Jodoh, Tak Akan Pergi Kemana

Posted by Almaida A. Ade Ninggar 0 komentar





Dear bloggers,

Assalammu’alaikum… 

Hi, lama tidak posting lagi, setelah sekian lama diam dan lumayan sibuk mengurus tugas akhir semester. Sekarang saatnya aku menulis lagi, karena menulis membuatku semakin merasa nyaman terhadap diri sendiri juga terhadap sisi yang lain. Wallahu’alam.
Dear, kali ini aku ingin mencoba posting tentang sesuatu, yang menurutku itu menarik. Meskipun tak bias ku pungkiri bahwa menurutku semua hal dalam hidupku adalah menarik, baik itu kisah yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan sekalipun. Allah mengajari kita untuk senantiasa bersyukur atas semua hal yang terjadi pada kita, senantiasa berfikir positif dan senantiasa berdoa.
Dear, cerita ini aku ambil dari kisah seseorang, cerita yang menimbulkan banyak tanda tanya.
Masih ingatkah dengan postingan tahun lalu, dimana aku menceritakan sosok orang yang selalu aku sebut dalam hampir setiap kali posting. Ya, dia Ronald. Temanku .
Aku mengenalnya sejak lama, lama sekali. Dari kita mulai TK hingga sekarang. Kita saling mengenal, kita juga saling tahu satu sama lain. Ketika itu, kami bermusuhan, aku begitu cuek padanya, aku begitu acuh padanya, hingga pada saat kita SMA, kita terpisah jauh, ya meskipun pada saat SMP kita juga tidak satu sekolah. Allah menakdirkan kami bertemu kembali di akhir SMA, ketika itu dia yang menghubungiku terlebih dahulu. Kita bertemu disaat kita sudah mulai beranjak dewasa, bukan anak-anak lagi yang setiap kali bertemu selalu bermusuhan. Kala itu, dia datang dalam hidupku. Pertama kali memang aku meresponnya dengan sangat buruk, masih bertahan pada sifat lamaku, cuek dan judes. Tapi, saya kira itu tidak bertahan lama. Entah bagaimana ceritanya, aku mulai mencintainya. Aku mulai merasa nyaman berteman dengannya. Padahal aku tau, siapa dia saat itu. Semakin lama, aku semakin sangat mengenalnya, mengenal pribadinya, baik itu baik atau buruk. Dulu, kami saling mencintai, kita bias memahami satu sama lain, bahkan seringkali aku dan dia bisa membaca fikiran satu sama lain, bisa tau apa yang terjadi antara kita meskipun kita terpisah oleh jarak. Setiap malam aku bisa bermimpi tentangnya, begitupun dia. Ya, itu masa lalu, masa lalu yang mengajarkan aku banyak hal, aku tau kedekatan seperti itu terhadap lawan jenis yang bukan muhrim tidak dibenarkan oleh agama. Hingga pada suatu ketika, Allah memberikan jalan hidup yang sangat jauh dari impian dan perkiraan antara aku dan dia. Dia sekarang di Semarang, aku di Medan. Semua itu terjadi dari proses yang sangat panjang, ujian yang bertubi-tubi, hingga pada akhirnya kami berada di tempat yang jauh berbeda. Kami memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi, sejak saat itu aku sudah mulai mengacuhkan segala tentangnya, meskipun pada faktanya, sampai saat ini aku belum bisa melupakannya. Dia sekarang dengan yang dulu sangat berbeda. Semakin dewasa, semakin shalih, semakin subhanallah. Ya, itu menurutku. Tiga tahun silam, cerita itu berlalu, terasa cepat dan sangat cepat, semakin aku tidak mengenalnya. Aku yakin, semua ini sudah Allah gariskan, saat dimana aku bertemu kembali dengannya, saat dimana aku berpisah untuk waktu yang sangat lama, dan sama-sama berniat untuk memperbaiki diri satu sama lain, memohon ampun dan semakin mendekatkan diri  kepada Allah, karena aku percaya, maut, rizqy, jodoh adalah misteri yang telah Allah tetapkan, namun terlepas dari hal tersebut, hendaklah kita menjemputnya dengan cara yang mulia. Biarkan aku tidak mengenalmu sekarang, karena aku percaya kepada Rabbku, jika memang dia jodohku, kita akan disatukan dalam suatu ikatan yang suci, ikatan yang diridhoi Allah. Semakin kita berfikir tentang apa yang telah terjadi terhadap diri kita, semakin kita dapat mengetahui bahwa apapun yang terjadi tak pernah terlepas dari kuasa Allah swt. Namun, lain halnya jika jodoh itu nantinya bukan dia, yang jelas, sekarang adalah waktunya untuk terus memperbaiki diri, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Semangat  Pagi. ^_^


Metro, 10 Juni 2014
Salam Santun,

Almaida A. Ade Ninggar

Baca Selengkapnya ....

Ketika Sore Itu

Posted by Almaida A. Ade Ninggar 0 komentar






Assalammualaikum dears.......

Alhamdulillah, akhirnya aku pulang juga ke rumah ibu, setelah sekian lama aku pergi untuk belajar dan akhirnya berkesempatan juga  untuk pulang.
Sore itu, aku datang ke rumah nenek yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Ketika kesana, ternyata nenek sama kakek lagi ngga ada, Cuma ada mbak Ainun, orang yag kerja dan bantuin nenek di rumah.
“mbak, apa kabar?” sapaku seraya mencium tangan beliau.
“eh mbak Aida pulang ya? Udah lama ngga ketemu, alhamdulillah mbak Ainun sehat, mbak Aida gimana?” balas mbak Ainun dengan muka sumringahnya, senang melihat ketika seseorang tersenyum.
“alhamdulillah baik juga mbak, mbak nenek sama kakek dimana?” tanyaku kembali.
“ibu sama bapak lagi pergi mbak, katanya tadi mau ke rumah bude Atika”
Hmmm......obrolan sore itu  entah dari mana ceritanya kami saling curhat. Satu hal yang membuat hatiku menangis. Mbak Ainun cerita tentang dirinya, ketika itu mbak Ainun bilang, beliau senang denganku, apalagi jika aku datang ke rumah nenek, alhamdulillah ya Allah, jika seperti itu, berarti ada orang lain yang merasa senang dengan keberadaanku.
Bagiku, mbak Ainun adalah orang yang sangat beruntung, beruntung dalam hal apa? Hm..... mungkin tidak dari pekerjaannya, namun dari tingkat ketaatannya kepada Allah, mbak Ainun pernah bilang, jika ia sudah setahun ini bertekad untuk memperbaiki diri dan keluarganya. Beliau bekerja keras demi anak semata wayangnya. Beliau  sadar, bahwa semua apa yang telah terjadi pada diri dan keluarganya tak pernah terlepas sedikitpun dari kuasa Allah. Pernah aku mendengar dalam al-Qur’an, bahwa Allah tak pernah melihat kedudukan ataupun jabatan yang disandang seseorang, bagi Allah, Taqwa merupakan tingkatan utama seorang  hamba terhadap Tuhanya. Meskipun mbak Ainun hanya seorang pembantu rumah tangga, tapi aku begitu kagum padanya. Dulu, beliau tidak bisa mengaji, jangankan untuk mengaji, untuk sholat 5 waktu saja enggan, hingga akhirnya terjadilah musibah yang menimpa keluarganya. Sejak saat itu beliau merasa bahwa beliau telah mengabaikan Allah, Sang Maha Pemilik segalanya, penguasa langit dan bumi, penggenggam takdir manusia. Suatu hal sederhana yang membuatku terkagum, ketikaa beliau bercerita tentang ‘target’ harian. Beliau memiliki target harian khatam 1 juz al-Qur’an, dzikir khusus dan senantiasa berprasangka baik, serta menjadikan pekerjaan sebagai ladang amal dan ibadah, bukan sebagai beban. Subhanallah, jika aku tengok lagi, siapakah aku? Sudahkah aku lebih baik dari mereka? Atau tak jauh-jauh,menjadi seperti mbak Ainun saja. Beliau begitu faham dan mengerti hakikat hidup, jika dibandingkan dengan aku yang notabenenya adalah anak sekolahan, jauh. Masih jauh. Allah, aku malu dengan diriku sendiri, sampai saat ini pun aku masih sering tidak mensyukuri nikmat dari Engkau ya Rabb. Aku tidak bersyukur dilahirkan dari keluarga baik, diberi kesempatan untuk menuntut ilmu sejauh ini, diberikan nikmat yang begitu luar biasa yang tak mampu aku menggambarkannya. Astagfirullah.........
Ya Allah, jadikan mbak Ainun dan keluarganya menjadi umatMu yang bertaqwa, mudahkanlah mereka dalam menjalani kerasnya hidup ini, istiqomahkanlah mereka hingga nantinya mereka kembali kepadaMu. Teruntuk mbak Ainun, terimakasih atas segala inspirasinya, aku sangat kagum terhadap mbak Ainun, aku merasa beruntung dan sangat bersyukur kepada Allah, karena aku yakin tak ada kejadian sekecil apapun akan terjadi kecuali Allah telah mengaturnya. Termasuk ketika Allah mempertemukan aku dengan mbak Ainun. Dari pengalaman sebelumnya, setiap kita bertemu siapapun, usahakanlah untuk senantiasa berprasangka baik, karena aku yakin, dari masing-masing orang tersebut memiliki ilmu yang mungkin saja kita belum mengetahuinya, atau kita telah lupa akan hal tersebut dan jangan melihat siapa orang yang menyampaikan, baik itu orang besar yang memiliki kekuasaan atau seorang pengemis sekalipun, tapi dengarkan apa yang mereka katakan.
Terimakasih Ya Allah.........

Metro, 01 April 2014

Salam santun,
Almaida A. Ade Ninggar


Baca Selengkapnya ....

Bismillah aku Berhijab

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Jumat, 31 Januari 2014 0 komentar



Assalammualikum wr wb 

Dear sahabat blogers,...

Hi, apa kabar semuanya? Semoga senantiasa istiqomah dijalanNya. Aamiin J. Teman-teman shalihah, note kali ini, aku pengen berbagi cerita nih sama pengalaman ku berhijab. Hehe.
17 Agustus 2010
Inilah kali pertama aku benar-benar berhijab, yang ngga seperti tahun-tahun lalu yang jilbabnya masih bongkar pasang sesuka hati. Hehe (kaya’ mainan anak-anak bisa bongkar pasang). Jujur, kedua orang tuaku tak pernah menyuruhku untuk berhijab dengan sempurna dengan lisan beliau, tapi aku bersyukur karena beliau memberikan perintah tersebut dengan cara yang sangat lembut, tidak memaksa dan akhirnya aku pun berhijab syar’i. Dulu, waktu kelas 9, aku pernah ngobrol-ngobrol sebelum mata pelajaran matematika dimulai.
 “Riska, nanti kalau aku udah SMA, aku pengen lho pakek jilbab beneran, hehe”
“aku juga mau banget kok, malahan sejak masuk SMA nanti, aku pengen pakai jilbab beneran”
“oke deh, liat nanti yaaaa!”
Dan alhamdulillah, apa yang kami impikan dan rencanakan, sesuai dengan apa yang pernah kami bicarakan beberapa tahun lalu J.

Awal cerita, ketika aku masuk SMA, aku putuskan untuk ikut beberapa eskul salah satunya ROHIS atu lebih kita kenal dengan Rohani Islam. Mulai saat itu, aku sering sekali ikut seminar-seminar atu agenda yang berkaitan dengan keputriian Islami, ya salah satunya yang mendemo kan tentang hijab syar’i, berhijab seperti layaknya Allah memerintahkan dalam al-Qur’an. Selain itu juga, aku ikut BBQ (Bina Baca Qur’an) atau Liqo’ atau tarbiyah. Disanalah aku mulai benar-benar membentuk karakterku, mulai memperbaiki akhlaq juga penampilan termasuk berhijab syar’i.
Sore itu, setelah upacara penurunan bendera, aku pulang ke rumah. Setelah mandi nih, udah cakep, hehe, kakak ku ngajak aku pergi kemana gitu, lupa :D. Terus, aku memang udah berniat dari kemaren-kemaren buat berhijab sungguhan. Terus aku pakai hijab syar’i. Sore itu langit cerah, awal aku berhijab. Kakak ku senyum, hehe. Ya, tanpa berkomentar. Mungkin ia senang dengan perubahanku J. Awalnya masih malu-malu, ragu, pasti. Tapi kalau ngga dimulai dari sekarang, kapan lagi? Takut telat, trus tiba-tiba dateng malaikat maut kan -_-. Teman-teman yang di organisasi pun sangat mendukung, begitu pula kakak-kakak senior yang senantiasa membimbing kami J. Terimaksih kakak dan teman-teman. Selain itu juga, aku banyak terinspirasi oleh mbak-mbak di kampus, dimana dulu waktu SMA aku sering banget ke kampus itu untuk belajar mengenai banyak hal dengan mereka. Mereka terlihat begitu anggun dengan balutan hijab syar’i, belum lagi dihiasi dengan akhlak yang santun, ramah J special banget lah pokoknya. Hehe

Tidak hanya sebatas itu, hidayah Allah begitu indah. Kagum dengan sosok mbak OSD alias Oki Setiana Dewi. Dulu sebelum yakin buat berhijab syar’i, mikirnya pake dalemm. Tau kenapa ? ya, biasalah problema anak 16 tahun-an ya kurang lebih sama. Mikirnya, ngga bisa modis, susah nyesuaiin baju sesuai trend, dan blah blah blah :D. Tapi, seiring berjalannya waktu, meskipun awalnya masih ragu-ragu, bisa aku atasi juga. Tiba-tiba aku sangat antuias dalam persoalan ini. Finally, semua tak seburuk yang ku bayangkan, dengan syar’i pun kita masih bisa berpanampilan cantik, bahkan lebih terkesan anggun, seriously J.
Nah, bagi teman-teman yang dalam hati sudah ada keinginan untuk berhijab syar’i, ayo mulai di azamkan dalam hati dan mulai di coba, J yakin ngga bakal nyesel kok. Yakin aja kalau kita sudah memenuhi perintah Allah, kita pun akan semakin dekat dengan Allah.
Yuk budayakan syar’i, terlebih budaya kita menganut budaya ke-Timuran, bukan ke-Barat-Baratan lhooo... J semoga Allah senantiasa membibing kita semua dalam dekapan ukhwah yang akan menyatukan kita sampai kita dipertemukan di jannahNya. Aamiin 

Metro 29 Januari 2014

Salam Santun
Almaida A. Ade Ninggar

Baca Selengkapnya ....
Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Catatan Hati .