Kematian itu dekat.....

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Jumat, 31 Januari 2014 0 komentar



Bismillahirrohmanirrohim..

Dear blogers,

Malam ini aku tak bisa tidur nyenyak, tiba-tiba aku merasa sedang di intai, entah siapa dia. Aku gelisah, aku bingung harus berbuat apa, mata seakan tak mau terpejam, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Aku hanya membaca istighfar, teringat dosa-dosa yang telah ku lakukan, kewajiban yang belum aku tunaikan, hak-hak mereka yang belum aku berikan, malam itu menuntunku untuk berjalan keluar. Kamar-kamar di asrama ini sudah gelap sekali, menandakan mereka sudah tidur. Aku berjalan menyusuri lorong, berharap aku bisa menenangkan hati yang gelisah dan tak tentu ini. Aku berjalan perlahan, sambil berdzikir, melihat sekeliling, merasakan aura yang sangat berbeda, hingga aku sempat berfikir, apakah keadaanku seperti ini ketika aku meninggal nanti, gelap, sepi, tak ada yang menemani. Seketika air mataku berlinang, merasa hidup ini sudah tak lama lagi. 

Malam semakin larut, mata ini belum bisa terpejam juga. Ku ambil air wudhu kembali, memutuskan untuk bersimpuh dan memohon ampun kepada Allah.. berdoa dengan begitu khusyuk, hingga aku hampir pinsan karena tak kuasa menahan tangis. Teringat dosa-dosa terhadap abi dan ummi, terhadap orang lain, terlebih terhadap Allah. Kembali aku membuka mushaf al-Qur’an, dan menemukan ayat yang sepanjang ayat itu, hatiku semakin terasa sesak. Qs ar-Rahman “maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”.
Selesai itu, hatiku sudah sedikit tenang, waktu menunjukan pukul 02.00 am, semakin mendekati fajar, namun aku belum juga bisa terpejam. Aku buka laptop, dan mencoba googling tentang sesuatu. Di sebuah blog, aku menemukan sebuah artikel, judulnya “ternyata kematianku dekat”. Sempat aku bingung dengan judul artikel tersebut, namun setelah aku baca, inti dari note itu adalah sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang telah tiada, dan diteruskan oleh sahabatnya yang masih hidup. Merinding. Pasti. Seolah aku pun merasakan hal yang sama. 

Aku jadi teringat mimpiku 3 tahun silam. Saat itu aku bermimpi sedang bersama seorang wanita berjilbab lebar, wanita itu tinggi, besar, wajahnya tak terlihat, hanya terlihat jilbabnya berwarna putih, kami berdua ada disebuah ruangan sempit berukuran 1 x 1,5 m kurang lebihnya, perempuan itu berkata kepadaku,
“ikutlah aku, aku akan memberitahu tentang suatu hal yang harus kamu ketahui”
“apa?” tanyaku dengan penuh penasaran.
Lalu perempuan itu meraih pergelangan tanganku dan ia membawaku pergi ke suatu tempat.
“tempat apa ini, mengapa ramai sekali? Dan kenapa tetangga dan saudara-saudaraku berada disana, apa yang terjadi?” tanyaku kepada wanita itu.
Wanita itu tidak juga menjawab pertanyaanku, ia diam seribu bahasa, ia berdiri disampingku, tetap menggengam erat pergelangan tangan kananku, kami berdiri dari kejauhan sambil tetap memperhatikan hiruk pikuk di tempat yang ramai itu. Tiba-tiba ia berkata,

“lihat, kamu mengenal perempuan itu?”
“iya, aku sangat mengenalnya, itu mbak Yuli, mbak Susanti, mereka semua tetanggaku, itu ada juga bude Wati ibunya mbak Rini. Diantara mereka juga aku melihat beberapa tetanggaku. Sebenarnya ada apa disana, mengapa banyak kursi seperti ada orang yang mau hajatan, hanya saja tak ada dekorasi?”
Kembali wanita itu menjelaskan rinci, kali ini penjelasannya membuatku kaku, tak bisa mengelak apa-apa, bahkan untuk menggerakkan badan sekalipun aku tak kuasa, derai air mata yang terus mengalir deras, semakin membuatku tak berdaya.

“kau lihat, banyak tetangga dan sanak saudaramu disana, lihatlah ember-ember  besar itu sedang di isi air oleh orang-orang menggunakan selang, untuk memandikan jenazah, lihat orang-orang sedang merangkai bunga untuk diletakan di atas keranda, lihat kain kafan itu telah diukur dan dipotong sedemikian rupa dan telah siap untuk dipakaikan sebagai pakaian terakhir, lihat pula orang-orang ramai berdatangan, mereka telah siap-siap untuk memberikan penghormatan terakhir, ya sholat jenazah, dan kau pun lihat mereka menangis tersendu-sendu, seakan tak rela kehilangan, seakan mereka sangat menyayangi jenazah itu, kau dengar suara tangisnya? Kau dengar? Itulah tangis kehilangan, kehilangan untuk selama lamanya. Dan apakah kau tau itu siapa? Itu dirimu, itu ragamu, kau sendiri telah menyaksikan, bahwa itu dirimu, bukan orang lain, inilah waktu terakhirmu untuk dapat bertemu dengan mereka, perhatikanlah....”
Aku tak bisa menggambarkan, bagaimana perasaanku saat itu, perasaan yang berkecamuk sebagai penolakan keras bahwa aku belum meninggal. Aku mencoba memanggil orang-orang yang lalu lalang, namun tak ada satu orang pun yang mendengarku, seakan aku berada di dunia yang berbeda dengan mereka, aku belum siap..... amal ibadahku masih sedikit, tapi mengapa aku pergi secepat ini.... aku tak bisa berkata-kata lagi, ingin aku melepaskan genggaman tangan dari wanita itu, tapi sangat erat, aku tak mampu,..
“sekarang kau tau, waktumu telah habis, pergilah bersamaku, kau sudah tak ada hak disini, ikutlah bersamaku”

Aku menolak dengan ketidakberdayaanku, aku mencoba mengelak atas semua yang terjadi kepadaku, sampai akhirnya wanita itu menarik tanganku dan berjalan sejauh mungkin, perempuan itu lari, aku pun ikut lari karena aku tak bisa melepaskan genggaman itu, hingga ketika kami tiba disebuah tempat yang sangat menakutkan, hutan belantara, penuh dengan semak belukar, akar-akar bergelantungan, tiba-tiba ada seorang kakek berjubah putih, dengan sorban yang dijadikan ikat kepala, dengan tasbih di genggamannya, layaknya seorang wali Allah, memberhentikan kami. Kakek itu tersenyum kepadaku, suasana semakin tak terkendali. Kemudian kakek itu berkata kepada wanita yang sampai sekarang masih menggengam tanganku.
“lepaskan ia, belum saatnya ia pergi, Allah telah menetapkan takdir kapan ia akan pergi, lepaskan”
Wanita itu tiba-tiba menjadi sangat menakutkan, ia mengelak dan tetap akan mengajaku pergi, aku menangis tersendu-sendu, aku takut.

“tidak, aku tetap akan membawanya pergi” wanita itu tetap bersikeras.
Kakek itu mengatakan sebuah kata singkat “tujuh”.
Tujuh (7) apa maksud dari 7?? Aku tak begitu memikirkannya.
Lalu perempuan itu melepaskan aku dan aku dapat berlari menjauhi wanita itu sejauh-jauhnya. Entah aku berada dimana, aku tak mengenali tempat ini. Perlahan dalam kesendirian, tempat ini berubah menjadi kamar ku, kali ini aku sadar, semua itu tadi adalah mimpi, namun aku tak bisa bangun dari mimpiku, aku mendengar nenek dan kakek sedang bercakap di teras samping, karena jendela kamarku dekat dengan teras. Aku coba memanggil-manggil mereka, tapi seakan tak ada yang mendengarkanku, aku sangat ingin bangun, dan berhenti dari mimpi buruk ini. Aku menangis tersendu-sendu namun tak ada satupun yang mendengarku, aku melemparkan jam beker di meja dekat tempat tidurku namun tak ada yang mendengar, hingga akhirnya aku dapat terbangun, namun apa yang terjadi, ketika akhirnya aku dapat bangun, namun aku sangat terkejut, sejadi-jadinya, aku duduk dari posisi tidurku, namun aku melihat ragaku masih tertidur, jiwaku sudah keluar setengah badan dari ragaku, aku melihat ragaku terpejam dan aku tak dapat menyentuhnya, aku melihat seperti seolah-olah nyata, aku bisa menggerakan tanganku namun tidak dengan ragaku. Setelah itu aku pinsan. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi, mimpi buruk itu dalam waktu dekat. Hingga pada akhirnya ternyata aku bisa bangun, dan aku masih hidup. Sontak aku langsung mengambil air wudhu, sholat tahajud, menangis tersedu-sedu hingga membangunkan kakek nenek dan kakak ku, mereka bingung, mengapa kau menangis menjadi jadi, aku langsung meminta maaf kepada mereka, aku takut jika memang ajalku dekat, dan aku belum sempat meminta maaf kepada mereka.  Setelah sholat dan berdoa, hatiku sudah mulai tenang, rasa takut itu sudah mulai berkurang, meskipun air mata belum juga dapat terhenti. Aku ambil handphone ku, ingin sekali menghubungi ummi di rumah, untuk meminta maaf, tapi kakak bilang “jangan, ini masih tengah malam, takut nanti mereka mengkhawatirkanmu, sekarang tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa, besok pagi baru kamu menghubungi ummi, tapi jangn ceritakan apa yang telah terjadi”
Aku mengangguk. Akhirnya aku kembali ke kamar, dan mencoba menenagkan diri agar dapat tidur taanpa ditemui oleh wanita itu. 

Pagi tiba...
Malam ini adalah malam terpanjang yang pernah aku alami dan rasakan, di pagi hari aku seperti orang “ling-lung” merasa antara percaya atau tidak. Hingga di sekolah, mataku sembab, aku sama sekali tidak fokus belajar. Tiba-tiba di tengah pelajaran, semua memori tentang mimpiku semalam kembali dan dapat ku lihat jelas, sampai sekarang aku masih sangat mengingatnya.
Sahabat, mungkin inilah teguran dari Allah untukku, teguran sekaligus peringatan, peringatn agar aku dapat memperbaiki dan mempersiapkan semuanya, bisa juga ini termasuk kesempatan yang Allah berikan untukku. Aku, sebagai hamba Allah yang jauh dari kata “sempurna”, masih seringkali menyepelekan atau kadang acuh, aku tak juga bisa sadar untuk terus melakukan yang terbaik dan bermanfaat, terkadang aku sedih hanya karena msalah sepele, masalah yang tak perlu dipermasalahkan, maslah kecil yang membuatku tak fokus dengan apa yang menjadi tujuan dan prioritas, masalah yang akhirnya hanya membuang-buang waktu produkifku. Ya Allah, ampuni hamba....

Disaat kita mulai kembali berfikir, akankah kita akan terus-terusan seperti ini, menjadi manusia yang tak bernilai, yang tak berambisi untuk meraih akhirat yang sejatinya itu adalah tempat abadi kita untuk selama-lamanya? Kerusakn-kerusakan moral yang telah terjadi saat ini adalah bukti bahwa murka Allah semakin dekat, tidak kah kita takut akan murkaNya? Karena ulah kita sendiri? Dunia menjadi tujuan utama, segala hal di halalkan dan mengabaikan pedoman keislaman itu sendiri.  Karakter  sebagai muslim luntur, terlebih pada generasi muda yang seolah-olah acuh dan tak peduli, tak serius dengan kondisi Islam pada masa kini. Otak-otak mereka telah diracuni olah keduniawian, tipu daya syaitan yang begitu mudahnya masuk pada diri masing-masing karena keimanan yang sangat sedikit, tak lagi memperdalam ilmu keagamaan, menjadikan diskotik, bar dan tempat-tempat nongkrong menjadi salah satu destinasi utama dalam menghabiskan waktu luang, sedangkan majelis-majelis ilmu dibiarkan sepi tak berpenghuni, ataukah jika ada, hanya segelintir orang yang berada didalamnya. Suasana yang sangat berbeda jika kita melihat lingkungan sekitar jika dibandingkan dengan lingkungan pesantren yang begitu teduh dan menyejukkan.
Sahabat, selagi kita masih deberi nikmat berupa kelapangan dan waktu luang, ayo kita fastabihul khoirots, sebelum kita menutup mata untuk selamanya..

Metro, 31 Januari 2014

Salam Santun,
Almaida A. Ade Ninggar

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Kematian itu dekat.....
Ditulis oleh Almaida A. Ade Ninggar
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://almaidaisanita.blogspot.com/2014/01/kematian-itu-dekat.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Catatan Hati .