Ketika Sore Itu
Senin, 07 Juli 2014
0
komentar
Assalammualaikum
dears.......
Alhamdulillah, akhirnya
aku pulang juga ke rumah ibu, setelah sekian lama aku pergi untuk belajar dan
akhirnya berkesempatan juga untuk pulang.
Sore itu, aku datang ke
rumah nenek yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Ketika kesana, ternyata
nenek sama kakek lagi ngga ada, Cuma ada mbak Ainun, orang yag kerja dan
bantuin nenek di rumah.
“mbak, apa kabar?” sapaku
seraya mencium tangan beliau.
“eh mbak Aida pulang ya?
Udah lama ngga ketemu, alhamdulillah mbak Ainun sehat, mbak Aida gimana?” balas
mbak Ainun dengan muka sumringahnya, senang melihat ketika seseorang tersenyum.
“alhamdulillah baik juga
mbak, mbak nenek sama kakek dimana?” tanyaku kembali.
“ibu sama bapak lagi
pergi mbak, katanya tadi mau ke rumah bude Atika”
Hmmm......obrolan sore
itu entah dari mana ceritanya kami
saling curhat. Satu hal yang membuat hatiku menangis. Mbak Ainun cerita tentang
dirinya, ketika itu mbak Ainun bilang, beliau senang denganku, apalagi jika aku
datang ke rumah nenek, alhamdulillah ya Allah, jika seperti itu, berarti ada
orang lain yang merasa senang dengan keberadaanku.
Bagiku, mbak Ainun adalah
orang yang sangat beruntung, beruntung dalam hal apa? Hm..... mungkin tidak
dari pekerjaannya, namun dari tingkat ketaatannya kepada Allah, mbak Ainun
pernah bilang, jika ia sudah setahun ini bertekad untuk memperbaiki diri dan
keluarganya. Beliau bekerja keras demi anak semata wayangnya. Beliau sadar, bahwa semua apa yang telah terjadi pada
diri dan keluarganya tak pernah terlepas sedikitpun dari kuasa Allah. Pernah
aku mendengar dalam al-Qur’an, bahwa Allah tak pernah melihat kedudukan ataupun
jabatan yang disandang seseorang, bagi Allah, Taqwa merupakan tingkatan utama
seorang hamba terhadap Tuhanya. Meskipun
mbak Ainun hanya seorang pembantu rumah tangga, tapi aku begitu kagum padanya.
Dulu, beliau tidak bisa mengaji, jangankan untuk mengaji, untuk sholat 5 waktu
saja enggan, hingga akhirnya terjadilah musibah yang menimpa keluarganya. Sejak
saat itu beliau merasa bahwa beliau telah mengabaikan Allah, Sang Maha Pemilik
segalanya, penguasa langit dan bumi, penggenggam takdir manusia. Suatu hal
sederhana yang membuatku terkagum, ketikaa beliau bercerita tentang ‘target’
harian. Beliau memiliki target harian khatam 1 juz al-Qur’an, dzikir khusus dan
senantiasa berprasangka baik, serta menjadikan pekerjaan sebagai ladang amal
dan ibadah, bukan sebagai beban. Subhanallah, jika aku tengok lagi, siapakah
aku? Sudahkah aku lebih baik dari mereka? Atau tak jauh-jauh,menjadi seperti
mbak Ainun saja. Beliau begitu faham dan mengerti hakikat hidup, jika
dibandingkan dengan aku yang notabenenya adalah anak sekolahan, jauh. Masih
jauh. Allah, aku malu dengan diriku sendiri, sampai saat ini pun aku masih
sering tidak mensyukuri nikmat dari Engkau ya Rabb. Aku tidak bersyukur
dilahirkan dari keluarga baik, diberi kesempatan untuk menuntut ilmu sejauh
ini, diberikan nikmat yang begitu luar biasa yang tak mampu aku
menggambarkannya. Astagfirullah.........
Ya Allah, jadikan mbak
Ainun dan keluarganya menjadi umatMu yang bertaqwa, mudahkanlah mereka dalam
menjalani kerasnya hidup ini, istiqomahkanlah mereka hingga nantinya mereka
kembali kepadaMu. Teruntuk mbak Ainun, terimakasih atas segala inspirasinya,
aku sangat kagum terhadap mbak Ainun, aku merasa beruntung dan sangat bersyukur
kepada Allah, karena aku yakin tak ada kejadian sekecil apapun akan terjadi
kecuali Allah telah mengaturnya. Termasuk ketika Allah mempertemukan aku dengan
mbak Ainun. Dari pengalaman sebelumnya, setiap kita bertemu siapapun,
usahakanlah untuk senantiasa berprasangka baik, karena aku yakin, dari
masing-masing orang tersebut memiliki ilmu yang mungkin saja kita belum
mengetahuinya, atau kita telah lupa akan hal tersebut dan jangan melihat siapa
orang yang menyampaikan, baik itu orang besar yang memiliki kekuasaan atau
seorang pengemis sekalipun, tapi dengarkan apa yang mereka katakan.
Terimakasih Ya
Allah.........
Metro, 01 April 2014
Salam santun,
Almaida A. Ade Ninggar
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Ketika Sore Itu
Ditulis oleh Almaida A. Ade Ninggar
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://almaidaisanita.blogspot.com/2014/07/ketika-sore-itu.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Almaida A. Ade Ninggar
Rating Blog 5 dari 5


0 komentar:
Posting Komentar