Berteman BUKAN Berarti Bersahabat

Posted by Almaida A. Ade Ninggar Jumat, 31 Januari 2014 0 komentar





Dear blogers..

Kata orang, diri kita adalah ceriman dari sahabat-sahabat kita. Benarkah? Ya, aku sadari  semua itu memang benar.J kita bisa menilai seseorang dari teman-teman bergaulnya, ya kurang lebih seperti itu.
Guys, sejak aku kecil hingga usiaku sekitar 16 tahun, bisa dibilang, aku adalah orang yang selalu ngikutin rule yang ada. Aku adalah sosok anak yang benar-benar penurut. Dilarang ya dilarang, semua aturan-aturan itu aku ikuti tanpa terkecuali. Tapi bukan berarti sekarang engga nurut yaa hehe. Hingga pada suatu saat, aku bertemu dengan orang-orang yang sangat berpengaruh terhadap pola pikirku mengenai banyak hal. Jujur, aku masih berpegang teguh dengan aturan-aturan keluarga yang aku anggap itu adalah kunci dari penjagaan terhadap diriku sendiri. Ketika SMA, aku mengikuti banyak kegiatan, mulai dari Rohani Islam sekolah, Forum Rohani Islam tingkat Kota, Paskibra, Pramuka, Karate, Tim Olimpiade dan masih banyak lagi. Sejak itu, aku lebih open-minded, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, kebiasaan, karakter, belum lagi bertemu dengan teman-teman luar sekolah, sangat kompleks.

Aku sangat bersyukur dengan semua keberagaman ini,  dari sini aku belajar mengenal pribadi mereka, pergaulan mereka, dan apapun tentang mereka. Dari mereka aku belajar banyak hal. Ketika bersama sahabat-sahabat di Rohani Islam baik itu tingkat sekolah atau tingkat kota sekalipun, dimanapun berada, kesejukan adalah hal yang mudah sekali kita jumpai disana-sini, keseriusan, ke-tawadu’an, kesopanan, dan semua akhlak mulia yang mampu menentramkan hati dapat kita dapatkan disini, jujur aku juga banyak berubah ketika aku bergabung dengan mereka. Alhamdulillah...
Paskibra, Karate, Pramuka. Ketiga organisasi ini aku bertemu dengan orang-orang yang keras, tapi jika di bentuk hierarki, pramuka tidak termasuk yang keras. Berbeda pastinya dengan Rohani Islam (Rohis). Dan ketika di tim olimpiade sekolah, yang ada hanyalah keseriusan, belajar, belajar, belajar, maksimal, totalitas, berjuang, pasrah J. Hehehehe. Ya begitulah karakter manusia, tapi setidaknya, semakin kita mengenal banyak orang dengan karakternya masing-masing, kita akan lebih mengenal dan dapat mengontrol diri, jika mau berusaha ok J

Kembali ke topik awal, jika teman bukan berarti sahabat. Why? Kenapa? Aku harus jawab apa dong? Hehe.
Mungkin aku pun tak bisa menjawab pertanyaan itu dengan spontan jika ada seseorang yang mengajukan pertanyaan tersebut kepadaku. Disini, aku hanya ingin berbagi pengalaman. Bukan memberikan definisi. Aku mengenal banyak orang, aku berteman pun dengan banyak orang, dulu sewaktu SMA hingga sekarang sebenarnya, aku berteman dengan banyak kalangan. Dari yang satu sekolah, luar sekolah, luar pulau hingga luar negeri. Alasannya, I wanna know more about them J

Ketika aku berteman dengan salah satu teman sekolahku, laki-laki sebut saja Aldo. Semua warga sekolah, khususnya angkatan ku mengenal dia. Pernah aku sempat berteman dengannya. Dia seorang pemakai, begitu pula dengan teman-teman bergaulnya. Namun hal ini tidak diketahui oleh pihak sekolah. Ketika aku tanya, “kenapa lo make? Lo ngga takut sakaw? Lo ngga takut orang tua atau pihak sekolah tau?” ya, pertanyaan sederhaana yang pernah aku lontarkan ketika aku sedang ngobrol dengan dia dan beberapa teman lainnya di suatu tempat biasa mereka berkumpul. Dengan nada santai dan sedikit sunggingan senyum, “hehe, apaan lah lo Aida, biasa aja kalee, orang tua gua mana peduli sama gua, mau gua pulang tinggal mayat pun belum tentu mereka bakal nangisin jasad gua”. Sontak dalam hati, aku benar-benar kaget dengan jawaban Aldo. Ya.. faktor keluarga yang broken home, anak yang dibesarkan dengan harta benda tercukupi, namun malang karena bertemu dengan teman-teman yang menjerumuskan dan jauh dari perhatian, kasih sayang orang tua. Belum lagi, mereka begitu jauh dari agama. Ya Allah, semoga Engkau membimbing teman-teman hamba ke arah yang benar L aamiin.
Kali ini, aku coba berteman dengan beberapa teman dengan type “getset”nya. Ya, cewe-cewe yang sukanya hang out di mall, karokean, bioskop dan temat-tempat sejenis itu. Mereka memang asyik, ya aku akuin mereka memang asyik. Karakter mereka mencari cowo ganteng, kalo bisa yang  bermobil. Hehe. Hobby banget beli barang branded yang limmited. Ya, aku paham dengan mereka, itulah kepuasan yang mereka dapatkan. Salah satu dari mereka, sebut saja Ocha. Pernah aku diajak Ocha buat temenin dia belanja karena teman-temennya ngga bisa, ya kebetulan kita juga berteman. “Cha, lo ngga salah belanja ngabisin bugdet segitu? Ntar kalo nyokab atau bokap  lo cek rekening lo gimana cha?” dengan muka imutnya, sambil makan es krim di sebuah cafe, dia jawab “haha, bodo amat lah Aida, baru juga 1,8 juta, ini baru tas, sepatu, baju, entar kalo abis gua minta bokap lagi, ngga mungkin bokap nyokab gue ngecek rekening segala, mereka sibuk di Jakarta, gua disini Cuma sama eyang putri sama abang”. Nah lo, ini juga termasuk atau sejenisnya kasus si Aldo, Cuma beda dikit.L

Beda lagi dengan teman-teman di luar sana yang aku kenal, sengaja aku memang ingin tau mengenai kehidupan mereka, kehidupan teman-teman yang bebas. Smoking, Free sex, alkohol, semua itu umum bagi orang-orang yang tau dan mengenal kehidupan mereka. Biar bagaimanapun juga, mereka adalah teman-temanku. Aku sudah tidak kaget dengan semua ini, cukup tau. Itu prinsipku. Teman-teman menghargai aku karena aku apa adanya, dan begitu pula denganku, aku akan tetap menghargai mereka, meski aku tau, seperti apa pergaulan mereka. Yang sampai aku terheran, beberapa dari mereka adalah anak kebanggaan kedua orang tua bahkan keluarga. Keluarga tidak tau, bagaimana mereka ketika di luar. Entahlah aku hanya bisa diam, jikalau aku membantu, ya mungkin akan lebih banyak aku membantu lewat doa dan tindakan nyata yang halus. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tabu, atau apa lah, tapi memang ini faktanya. Inilah fakta pergaulan remaja sekarang, yang di kota besar hingga pedesaan pun bisa dibilang “beda tipis” L. Aku diam, karena aku tau. Tapi beda cerita jika yang ku ketahui adalah hal-hal baik atau semacam ilmu yang dapat bermanafaat bagi sesama.

Guys, boleh kita berteman dengan siapa saja, preman, pemakai, orang shalih, bahkan ustadz, mereka semua adalah ciptaan Allah, tak boleh sekalipun kita mencela atau mencerca. Namun, selektiflah kalian dalam mencari seorang sahabat. Karena sahabat, adalah mereka yang membenarkan tindakan salah kita, bukan mengiyakan semua perbuatan kita. Mereka yang akan menjadi tempat kita mencurahkan perasaan, saling berbagi solusi ketika membutuhkan, mereka yang akan setia kepadamu, dan  menjadikanmu berarti bagi kehidupan mereka.

Berteman atau mengenal mereka menurutku adalah cara dimana aku bisa belajar tentang kehidupan dari segala aspek, dari segala sudut pandang, dan dari pengalaman orang-orang yang bisa kita jadikan pebelajaran dalam hidup ini. Tak hanya yang baik saja ketika kita berteman, karena terkadang mereka yang kita pandang sebelah mata adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian kita. Tidak munafik juga ketika kita merasa bahwa kita adalah orang yang hanif,  namun ketika melihat atau mengetahui karakter buruk seseorang, kita langsung mencerca, mencela, bukan malah mendoakan kebaikan untuk mereka. Sebagai seorang muslim yang beriman, kita memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap saudara sesama lainnya, jangan kita beriman hanya untuk diri sendiri, karena sebaik baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Baik mereka yang kita kenal, ataupun mereka yang kita tidak mengenalnya sama sekali.
Jujur, sebenarnya rasa iba dalam hati ini begitu dalam terhadap mereka, mereka yang dengan sengaja mencari kebahagiaan namun dengan cara yang salah, seharusnya, Allah-lah yang ia cari, Allah lah yang mereka butuhkan selama ini. Astagfirullah.... aku mohon ampun atas segala salah jika dalam penulisan artikel ini, semua ini aku tulis tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk pengetahuan teman-teman semua, bukan untuk menjelekkan atau menjatuhkan salah satu pihak.

Ya Rabb.. Maha penggengam segalanya,
Lindungi dan arahkanlah mereka menuju Engkau,
Bukakanlah pintu-pintu hidayah dan taubatMu kepada mereka,
Lindungi dan jagalah mereka dimanapun mereke berada.
Allah.... aku mencintai mereka karena Engkau.

Metro, 27 Januari 2014

Salam Santun
Almaida A. Ade Ninggar
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Berteman BUKAN Berarti Bersahabat
Ditulis oleh Almaida A. Ade Ninggar
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://almaidaisanita.blogspot.com/2014/01/berteman-bukan-berarti-bersahabat.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Catatan Hati .